Wednesday, February 27, 2013

[RPG] In The Snow Like This


“Kau tahu, kemarin aku menemani ayahku bertemu dengan seseorang dari Prancis,” ujar seorang lelaki kepada seorang gadis kecil dengan rambut coklat sebahu dan iris biru terang.

“Hm?” jawab si gadis surai coklat kurang antusias. Terang saja, sudah lebih dari tiga hari lelaki berambut pirang ini bercerita macam-macam tentang ayahnya yang akhir-akhir ini mendapat tamu penting dari sana-sini.

“Ayolah, setidaknya dengarkan ceritaku, Fel,” balasnya sambil mengguncang-guncang tubuh gadis surai coklat. Gadis Felicita yang tengah memerhatikan Bunga Mawar yang baru kuncup itu merasa terusik, sontak memasang wajah cemberut. Pipinya ia kembungkan, sembari mendengus kesal. Lelaki bernama Nathan ini tidak akan diam jika dia tidak mendengarkan ceritanya terlebih dahulu.

“Baiklah,” ucap Felicita lantas sambil membalikkan tubuhnya yang kemudian kini menghadap ke arah sumber suara rusuh barusan. “Apa yang mau kau ceritakan, Nate?”

Nathan meringis, ah lebih tepatnya tersenyum lebar. Senyum di antara rasa puas karena telah berhasil mengundang atensi Fel, dan senyum karena kini ia bisa bercerita semaunya. Lalu dengan sekali gerakan, jari telunjuknya kini telah berada di pipi kanan Felicita. Bersamaan dengan itu jarinya mendorong pipi Felicita yang sedang kembung ini.

“Jelek sekali kau, haha. Jangan pasang wajah seperti itu. Aku tahu kau memang tak bisa membuat lelucon, tapi demi apa pun jangan membuat wajah seperti itu. Walau wajah itu cocok untukmu, haha,” ujar Nathan tergelak.

Felicita menajamkan pandangan matanya ke arah Nathan. Seketika suasana berubah menjadi hening, hanya ada gelak tawa Nathan yang sangat garing.

“Ha-ha-ha---haaa?”

Perlahan suara tertawa Nathan hilang ditelan angin yang kini sedang bertiup kea rah mereka. Felicita masih menajamkan pandangan matanya ke arah Nathan. Nathan yang tersadar akan pandangan Felicita langsung berhenti tertawa dan bertingkah kebingungan.

“Ah, kau memang tidak pernah bisa menerima lelucon, Fel,” ucap Nathan sambil meletakkan kedua tangan di pinggangnya. Bergeleng-geleng.

“Tapi, Tuan Nathan. Lelucon Anda kali ini agaknya membuat Nona Felicita tidak nyaman. Anda tidak boleh melakukan hal semacam itu kepada seorang gadis,” ucap seseorang dari belakang Nathan.

Nathan menengok. Yang baru berbicara itu adalah seorang lelaki berambut hitam dengan pakaian hitam dan topi di kepalanya yang sedang membawakan sebuah nampan.

“Saya membawakan Anda the, Tuan. Dan karena kita kedatangan tamu, saya telah mempersiapkan teh Mallow Blue khusus untuk Nona Felicita,” ucap lelaki itu sambil meletakkan satu set minum the di atas meja porselen berwarna putih. Felicita senang bukan main. Dia langsung mendekati lelaki itu dengan mata berbinar-binar.

“Teh Mallow Blue ini semula berwarna biru, namun lama-lama warnanya akan berubah menjadi ungu,” ucap lelaki itu dengan terampil menuang teh ke cangkir. “Lalu, setelah saya menambahkan jeruk, maka warna teh akan berubah menjadi warna merah muda yang sangat indah,” tambah lelaki itu.

“Cantik sekali…” ucap Felicita sambil menatap cangkir berwarna bening itu dengan berbinar. “Kau hebat seperti biasa, Luke. Bahkan kau jauh lebih hebat dari Nathan.“

“Eh…??!” teriak Nathan sambil membelalakkan matanya ke arah Felicita. Felicita tidak menggubrisnya. Dia kini sibuk menyesap teh Mallow Blue. Menyesap teh adalah waktu yang berharga bagi seorang Felicita.

“Maaf, Nona Felicita. Tapi saya hanya seorang pelayan biasa. Tuan muda-lah yang mengajari saya macam-macam,” ujar Luke sambil membungkukkan badan dan mengerdip sebelah mata kepada Nathan. Nathan yang melihat hal itu langsung tersenyum sangat lebar.

“Hei, kau dengar itu bukan, Fel?” ucap Nathan sambil berlagak menyombongkan diri kepada Felicita. Namun lagi-lagi Felicita hanya menyesap tehnya semakin dalam. Mallow Blue bahkan jauh lebih menarik ketimbang memerhatikan perkataan Nathan.

“Hei, Fel. Dengarkan aku!”

Ah, pagi yang sangat ramai.
***
Itu delapan tahun yang lalu.

Felicita berjalan menyusuri halaman Grandfield-Alven yang kini didominasi benda putih yang berulang jatuh dari langit. Seragamnya tertutup oleh mantel putihnya, dan lehernya dilindungi oleh belitan syal berwana merah jambu. Tangan kanannya tengah memegang payung yang awalnya berwarna merah, namun kini menjadi warna merah bercak putih. Di tengah udara dingin seperti ini, role macam apakah yang sedang dimainkan seorang Nona Chamberlain ini?

Menunggu.

Emm, tidak. Tepatnya berjaga-jaga.

Kemarin malam seusai mengurusi urusan klub berkuda yang sedang mengalami beberapa masalah finansial, handphone-nya berulang kali berdering. Sebuah nama jelas tertera di situ. Sangat familiar. Karena itulah, di tengah salju menyebalkan ini, Felicita rela menunggunya datang. Bukan karena ingin segera bertemu, tapi lebih ke aksi penjagaan.

“Felicita, apa yang kau lakukan di tengah salju begini?” ucap seseorang dari arah samping kanannya.

Felicita menengok. Dua orang gadis pirang sedang berjalan, sama sepertinya. Hanya saja mereka saling berbagi payung, tidak sepertinya yang hanya sendirian. Gadis yang baru menyapanya adalah gadis tinggi dengan rambut pendek. Dia adalah Cecille Spencer, seorang putri dari pemilik toko berlian yang berada di bagian barat London. Di sampingnya adalah gadis pemalu dengan rambut pirang panjang yang diikat ke bawah. Cynthia Cashiraghi, anak kedua dari pemilik butik Cashiraghi yang merupakan butik terbesar di London. Felicita melempar senyum ke arah mereka berdua, sambil melambaikan tangannya.

“Tidak. Aku hanya sedang… berkeliling sejenak. Kurasa tidak ada salahnya menikmati pemandangan yang hanya terjadi beberapa bulan dalam setahun.”

Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang melakukan penjagaan ekstra terhadap area ini.

“Ah, begitu. Kau sangat mengagumkan. Kau pandai sekali menemukan hal yang bisa membuatmu nyaman,” ucap Cecille sambil merapatkan syal-nya yang tadi sempat turun beberapa senti.

Perkataan barusan. Itu pujian atau sindiran?

“Hati-hati, Nona Chamberlain. Kau bisa sakit jika berlama-lama di luar pada cuaca seperti ini.”

Kini Cashiraghi yang berbicara.  Felicita hanya mengangguk pelan, mengucapkan kata yang terdengar seperti, “Kau juga” namun tertelan oleh suara angin yang menderu. Kedua gadis barusan lewat setelah itu, meninggalkan Felicita yang tengah berdiri di tengah salju dengan payung merahnya. Cuaca semakin dingin dan orang yang sedang ia tunggu tidak kunjung terlihat. Felicita meraih pocket watch-nya, dan jamnya menunjukkan waktu beberapa menit lebih awal dari waktu kedatangan orang itu. Felicita menatap jam itu bimbang. Hatinya berkata, untuk apa aku bersusah berdiri di tengah salju seperti ini hanya untuk menunggu orang itu?

Mendengus pelan.



Timeline: Pertengahan Januari
Waktu: Sabtu Pagi (9 a.m)




8 comments:

  1. Segerombolan salju turun perlahan, satu persatu tapi pasti. Mereka begitu indah. Seakan menyambut langkah kaki pelan gadis bersurai ungu, mencolok, di antara warna putih sana-sini akibat tumpukan salju yang semakin menjadi. Di sinilah sekarang Violet tinggal. Tidak. Bukan Violet lagi, nama panggilannya Hazel sekarang. Hanya nama yang berubah, tidak ada yang berubah secara spesifik. Kota mungkin. Kota Berlin yang ia tinggalkan, kini berubah menjadi Kota London. Inggris, bukan Jerman lagi.

    Tak banyak orang terlihat beraktivitas di pusat kota saat ini. Mungkin hanya ada beberapa orang yang tengah sibuk mempersiapkan toko mereka. Hazel masih berjalan perlahan berhati-hati terhadap tumpukan salju yang telah menumpuk di trotoar tempatnya meninggalkan jejak sepatu bootnya, memberikan perhatian terhadap hal-hal di sekitarnya.

    Sebuah van hitam tengah melewati Hazel, meninggalkan asap tebal di belakang, mungkin van itu perlu perbaikan sejenak. Seorang gadis pengantar susu tengah mengendarai sepeda, keceriaan tampak jelas terukir di wajahnya. Anak lelaki penjual koran yang sibuk dengan selusin koran yang tengah dibawanya, melempar dengan ringannya koran itu satu-persatu ke tiap rumah yang telah dilewatinya. Pemuda berparas menarik yang sepertinya sedang menghitung selembar demi selembar pamflet di tangannya, tak lama ia bersiap membagikannya pada orang yang akan lewat di sekitarnya nanti. Dan terakhir yang Hazel temukan, seorang bocah yang tengah meringkuk bersandar pada dinding di antara rumah yang sepertinya pemiliknya seorang milyader. Seketika Hazel berhenti, terpaku, yang dipandangnya kelihatannya adalah seorang gadis. Anak kecil.

    Tanpa persiapan angin pembawa salju bertiup cukup kencang dari arah utara kota secara tiba-tiba, menerpa tubuh Hazel yang serentak menjadi kaku dibuatnya. Padahal ia sudah memakai pakaian berlapis, mantel dalam, dan mantel luar berwarna biru pastel yang tengah melilit sebagan besar tubuhnnya. Ditambah sarung tangan putih, syal abu-abu dan topi buatan tangan ibu yang ‘membesarkannya’ di bagian atas tubuh Hazel. Tapi tetap saja angin itu membuat dirinya bergidik, seketika berjongkok, menahan angin dengan berat tubuhnya dan payung yang ia cengkeram dengan kerasnya. Berharap situasi saat ini cepat berlalu.

    Benar saja, ia mendapati salju menumpuk di hampir seluruh permukaan payung yang menjaganya tadi. Tak kalah, di sekitar sepatu bootnya menampung kumpulan salju, membuat Hazel harus sedikit bersusah payah untuk berdiri kembali. Tak lama setelah ia berdiri, ia menyadari secarik kertas tersangkut di salju yang mengganggunya tadi. Tepat di depannya ia segera mengambilnya. Penasaran. Sepertinya itu pamflet yang akan dibagikan oleh pemuda tadi, dan sepertinya lagi pamflet-pamflet yang susah payah dihitung tadi sudah terbang dan sekarang entah kemana keberadaannya. Belum tertarik terhadap suatu hal di tangannya tersebut, Hazel kembali menoleh ke arah gadis tadi.

    Gadis kecil itu merapatkan kain lusuh yang menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Sepertinya dia sangat kedinginan. Matanya terpejam. Bibirnya putih, pucat. Terlihat sekali gigilan yang tengah ia lakukan. Meskipun ia berlindung di gang sempit antara rumah seperti itu, bukan berarti ia tidak merasa kedinginan, bukan? Hazel dengan cepat menghampiri gadis malang itu.

    ReplyDelete
  2. Merasa keberadaannya diusik orang asing, tiba-tiba saja kelopak mata gadis itu terbuka. Terkejut ia spontan berdiri, membuat selimutnya terjatuh, hingga terlihatlah pakaian yang ia kenakan. Tubuhnya hanya dilindungi oleh kaos dan kemeja panjang, dipadu dengan celana tiga-perempat yang ia kenakan. Alas kakinya hanya berupa sandal, bukan sepatu, apalagi dengan kaos kaki.

    Di cuaca seperti ini mana mungkin ia bisa bertahan dengan keadaan seperti itu. Bersiap, gadis itu hendak berlari. Wajahnya ketakutan. Secepat mungkin, Hazel melepas mantel luarnya dan memakaikannya pada gadis di depannya. Mengabaikan pamflet dan payung yang saat ini terjatuh di atas salju. Tersenyum. Kemudian bergegas mengambil dua benda yang dibuangnya tadi, melanjutkan aktivitasnya yang sempat terganggu tadi, meninggalkan gadis kedinginan tadi yang saat ini tengah terdiam di posisinya.

    Sedikit berlari ringan ia susuri jalan setapak menuju Grandfield-Alven, menikmati salju yang turun satu-persatu. Rasanya menyenangkan, ia melewatkan paginya dengan berjalan-jalan di pusat kota. Salju. Musim dimana Hazel dilahirkan, sebulan yang lalu, tepat ia berusia 16 tahun.

    Tak jauh dari gerbang sekolahnya berdiri, ia teringat pamflet yang tengah dipegangnya. Sembari memelankan langkahnya menuju gerbang, ia membaca pamflet itu. Tepat sebelum ia berbelok masuk ke dalam gerbang, ia berhenti. Matanya terbelalak. Jantungnya berdegup kencang.

    -Orkestra..... Pianist..... Alisa—Hahn?- Usiknya dalam hati.

    Tiba-tiba ia menyadari ada seseorang tak jauh di sekitarnya. Lebih tepatnya di bagian dalam gerbang sekolahnya.

    “Felicita?”

    Perlahan dan berhati-hati akan salju yang tebal di halaman sekolah , ia melangkah ke dalam. Ingin menemui seorang siswa yang pertama kali dikenalnya. Meski detak jantungnya masih tak beraturan. Tetap mencoba tenang.

    “Apa yang kau lakukan di sini?”

    ReplyDelete
  3. Waiting is wasting for people like me.

    Felicita masih tetap bersetia berdiri di dekat gerbang sekolah hingga sekarang ini. Kakinya sudah merasakan pegal walau sedikit, dan tangannya sudah mulai kedinginan. Ia ingin duduk, tapi tempat duduk yang paling dekat dengan gerbang terletak di luar, tanpa atap. Tahu artinya? Ya, permukaan tempat duduk itu terlapisi tumpukan salju. Untuk menghilangkannya perlu menyapukan tumpukan salju itu dengan tangannya. Namun, Felicita tak ingin membiarkan tangannya merasa lebih kedinginan hanya untuk menyapukan tumpukan salju itu.

    -“Felicita?”-

    Sebuah suara tiba-tiba memanggil namanya dari arah depan gerbang. Suara perempuan, bukan suara seseorang yang sedari tadi ia tunggu. Felicita berusaha tenang walau rasa dingin membuatnya sangat ingin berteriak saat itu juga.

    -“Apa yang kau lakukan di sini?”-

    Suara itu pun menampakkan pemiliknya. Gadis berambut ungu yang baru saja pindah ke tempat ini beberapa pekan lalu, Hazel Blodwyn. Ia terlihat sangat rajin untuk seorang gadis yang bersekolah di sekolah setengah elit seperti Gradfield-Alven. Tentu saja, karena kebanyakan anak-anak di sekolah ini adalah mereka yang memiliki orang tua kaya dan berpenghasilan tinggi. Keluar pagi-pagi dalam cuaca sedingin ini bukanlah gaya mereka. Walau begitu mereka yang di sini bukanlah para bangsawan, berbeda dengan sekolah elit yang terletak di jantung kota London. Felicita berani menjamin ia adalah satu-satunya anak bangsawan yang berada di sekolah ini. Pada umumnya, anak sepertinya akan bersekolah di tempat itu, dan bukan di sini. Seperti yang sering ia katakan dalam hati, Felicita di sini demi Ratu dan demi kakak laki-lakinya, Sebastian.

    “Oh, kau Hazel. Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di luar sekolah?” tanya Felicita balik, berusaha menghindari pertanyaan gadis Blodwyn barusan.

    Tiba-tiba sebuah sorot cahaya yang berasal dari belakang tubuh gadis Blodwyn itu menyinari irisnya yang biru. Cahaya itu perlahan mendekat dan berhenti. Felicita menengok ke arah cahaya itu. Sebuah mobil putih yang sangat ia kenal. Kedua pintu depan mobil itu pun terbuka dan dari dalam mobil itu keluar dua orang lelaki dengan menggunakan jas. Yang keluar dari pintu supir adalah lelaki berambut hitam, dan yang keluar di pintu lain adalah lelaki berambut pirang.

    Kalau Felicita bisa menghentikan waktu saat itu juga, ia akan memilih untuk memukul kepala lelaki berambut pirang dengan payung yang ada di tangannya. Lalu ia akan sepuas-puasnya menghujat lelaki itu betapa ia telah menunggu lama, betapa kedatangan mereka terjadi pada waktu yang sangat tidak tepat. Tapi, itu tidak mungkin. Maka dari itu, ia memilih untuk memasang wajah setenang mungkin. Ia tidak ingin gadis Blodwyn ini mengenal kedua orang yang berada di belakangnya, terutama dia yang berambut pirang.

    “Cuaca semakin dingin, Hazel. Bagaimana kalau kita masuk saja?” tawar Felicita sambil memegang pergelangan tangan gadis itu, segera mengajaknya masuk.

    “Hei, Felicita! Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau malah berbalik?” teriak lelaki berambut pirang. Felicita yang baru membalikkan badannya itu langsung habis-habisan merutuki lelaki itu di dalam hati.

    ReplyDelete
  4. Kedua tangan Hazel masing-masing sibuk memegang benda yang cukup penting bagi dirinya. Tangan kirinya tengah bersusah payah menggenggam pegangan payung bening miliknya. Berfungsi menghadang salju yang satu persatu tengah turun menuju tubuhnya, menjadi berat karena salju yang semakin menumpuk di atasnya. Sedangkan sisi lainnya hanya memegang enteng secarik kertas yang tadi sempat dibaca singkat olehnya. Tapi di dalam kepalanya masih sibuk memikirkan pamflet itu. Sekilas memudarkan pandangannya terhadap gadis yang ditanyanya barusan.

    -“Oh, kau Hazel. Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini di luar sekolah?”-

    Terkejut akan suara Felicita barusan, Hazel mencoba menghentikan pikiran yang sedikit memusingkan kepala. Ia tak mempermasalahkan Felicita yang tak menjawab pertanyaannya, mungkin temannya itu tak mendengar apa yang dikatakan oleh Hazel tadi.

    “Eh? Aku hanya...”

    Belum sempat menjawab pertanyaan Felicita, tiba-tiba deru kendaraan menghentikan aktifitas Hazel. Pandangannya mengikuti apa yang sedang dilihat oleh nona Chamberlain. Tangan yang tengah memegang kertas tadi refleks menutupi wajahnya dari sorotan cahaya yang menyakiti mata. Susah payah mencoba untuk melihat sesuatu tak diketahuinya itu. Tak lama ia mendapati sebuah mobil berhenti tak jauh di belakangnya. Bebas dari sorotan cahaya, tangannya ia bebaskan di samping badan. Dari dalam mobil keluarlah dua orang asing yang sama sekali tak dikenal oleh Hazel. Tentu saja, ia baru beberapa minggu tinggal di kota ini.

    -“Cuaca semakin dingin, Hazel. Bagaimana kalau kita masuk saja?”-

    Tiba-tiba saja pergelangan tangan kanan Hazel dipegang oleh Felicita. Sedikit tarikan lembut ia rasakan. Ia tak sadar sedang menjatuhkan kertas yang tadi dipegangnya. Angin dingin di sekitarnya membuatnya bergidik. Ia teringat memberikan mantel luarnya di pusat kota kepada gadis kecil tadi. Pantas saja tubuhnya tak sehangat sewaktu pagi buta ia keluar dari asrama. Mungkin karena kebingungan, ia hanya mengangguk dan mengikuti ajakan Felicita yang siap membimbing di depannya.

    -“Hei, Felicita! Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau malah berbalik?”-

    Sedikit targanggu. Hazel menoleh ke arah sumber suara barusan, kencang sekali memang. Didapatinya seorang lelaki berambut pirang telah memanggil Felicita yang tengah mengajaknya ke dalam gedung sekolah. Diperhatikannya baik-baik seseorang tersebut. Tetap saja hanya tulisan orang asing yang menjelaskannya di mata Hazel. Tak mendapat jawaban Hazel kembali menolehkan kepalanya ke arah depan kembali.

    “Felicita? Apa seseorang itu kenalanmu?” tanya Hazel heran sembari menatap mata Felicita lekat.

    Penasaran.

    ReplyDelete
  5. Sesaat tubuhnya tak bisa bergerak. Salju yang terus menerus jatuh menyadarkannya bahwa payung yang sedari tadi ia pegang justru tidak melindunginya. Manik birunya menengok ke arah sumber suara yang berada tepat di belakangnya.

    Nathan Michaelova. Dia adalah seorang lelaki Arcdelasford yang lebih tua dua tahun dari dirinya. Semenjak musim semi kemarin, lelaki itu adalah seorang mahasiswa bisnis dari Royal College University―sebuah universitas yang mendidik para bangsawan supaya bisa terus bersetia kepada sang Ratu. Yang bersamanya adalah Luke, seorang lelaki bersurai hitam yang dengan setia melayaninya selama bertahun-tahun. Ia bahkan tidak terlihat semakin menua selama delapan tahun terakhir. Tubuhnya justru semakin tinggi dan tegap, serta tatapannya jauh lebih tajam walau hal itu tak bisa mengurangi aura keramahan yang dipancarkan lelaki itu.

    “Felicita? Apakah seseorang itu kenalanmu?” ucap gadis Blodwyn di sampingnya. Felicita melirik gadis yang beberapa senti lebih pendek darinya dengan tatapan heran. Ia heran karena gadis di sampingnya menatapnya terlalu intensif, mungkin? Tapi, Felicita rasa ia tak perlu mempermasalahkan tatapan gadis itu, karena masalah sesungguhnya justru terletak di depan matanya. Berdiri dengan gayanya yang sedikit arogan seperti biasa.

    “Ah, Nate. Kau datang tepat pada saat aku berbalik sehingga aku tak menyadari kedatanganmu. Kau tahu, udara sangat dingin di sini dan aku tidak suka dengan... sesuatu yang terlalu... dingin,” balas Felicita sambil berusaha tersenyum. Alasannya kali ini tidak terlalu bagus, dan ia yakin...

    “Hei, ini tidak seperti kau yang biasanya,” ucap Nathan sambil bergerak mendekati Felicita.

    ... lelaki di depannya tahu kalau ia sedang berbohong.

    Kini Nathan tepat di depannya. Tubuh lelaki itu tinggi dan tegap. Felicita bahkan hanya setinggi pundaknya saja. Ia mendengus perlahan dan menyadari betapa kecilnya ia di depan laki-laki itu.

    “Apa maksudmu? Kau pasti sangat lelah karena perjalanan yang jauh, Nate. Tidakkah kau ingin masuk ke dalam?” jawab Felicita sambil tersenyum. Sebenarnya Felicita ingin sekali membekap mulut lelaki itu karena ia tahu Nathan sangat suka berbicara apapun yang ada di pikirannya.

    ReplyDelete
  6. “Itu,” ujarnya sambil menunjuk tangan Felicita yang tengah memegang pergelangan Hazel. “Bukankah kau tidak pernah memegang tangan orang? Kau bahkan tidak pernah memegang tanganku,” tambah Nathan sembari memperhatikan genggaman tangan Felicita lekat-lekat.

    Felicita mengumpat dalam hati karena telah mengira bahwa Nathan mengetahui kebohongannya. Lelaki itu justru mengatakan sesuatu yang sangat tidak penting.

    “M-memang ada yang salah dengan hal ini? Dia hanya terlihat kedinginan, dan aku hanya ingin membawanya ke dalam,” ucap Felicita sambil membelalakkan matanya dan sedikit meninggikan suaranya. Ah, kini Felicita terbawa suasana. Felicita cepat-cepat melihat ke arah gadis Blodwyn yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Takut-takut gadis itu malah berpikiran macam-macam tentangnya. Nathan yang berdiri di depannya justru tertawa seketika.

    “Haha, senang melihatmu seperti biasa,” ucap Nathan sambil mengacak-acak rambutnya yang terkena salju. Sensasi dingin yang menyebalkan langsung tertangkap oleh syaraf di kepalanya. “Jangan terlalu memaksakan diri, atau itu akan membunuh kita berdua,” tambahnya kemudian.

    Wajah Felicita memerah. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dan ia langsung menggigit bagian bawah bibirnya keras-keras. Lelaki ini... benar-benar mengatakan... hal yang sangat tidak penting. Biasanya jika Nathan sudah mulai berulah, Luke akan datang dan menghentikan Nathan. Tapi sekarang tidak. Luke hanya berdiri di depan mobil sambil membersihkan topinya yang terkena salju.

    “Senang juga bertemu denganmu, Nona Ungu,” ucap Nathan kepada Hazel Blodwyn sambil sedikit membungkukkan badannya dan meletakkan tangan kanan di depan dadanya.

    “Fel!” teriak seseorang dari dalam sekolah. Felicita mengenal suara ini. Sangat jelas. Ia bahkan tak perlu menengok untuk mengetahui siapa seseorang yang berada di belakangnya. Dia bukan masalah, tapi jika ia datang pada saat ini, ia....

    “Nathan, kau datang!” teriak seseorang itu lagi. Sekarang suaranya semakin mendekat.

    “Lama tidak bertemu, Katherine,” ucap Nathan sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. Memberi kode bahwa ia menyadari kehadiran gadis itu.

    Ya. Katherine Marie Sinclair.

    ReplyDelete
  7. Hazel memperhatikan Nona Chamberlain yang tengah memegang tangannya, yang dipandang terlihat bimbang untuk menjawab pertanyaan Hazel. Oke, mungkin nona ini tengah dilanda kebingungan karena muncul sosok makhluk di belakang Hazel dengan liarnya melontarkan pernyataan dan pertanyaan terhadap Felicita. Dilihat dari tingkah laku yang di luar kewajaran dan dugaan, jelaslah lelaki itu kenal baik dengan gadis surai cokelat tersebut.

    -“Bukankah kau tidak pernah memegang tangan orang? Kau bahkan tidak pernah memegang tanganku,”-

    Kalimat yang dilontarkan kembali lelaki itu terhadap Felicita membuat Hazel sedikit terkejut. Tentu saja, meskipun saat ini Hazel hanya terdiam, akan tetapi ia tetap menyimak pembicaraan kedua orang di dekatnya itu. Meski rasanya tidak enak mengganggu mereka, yang mungkin saja karena keberadaan Hazel di sana membuat pembicaraan mereka menjadi tak lepas dan sedikit aneh. Begitu yang ada di pikiran Hazel.

    Hazel mulai berpikir dan mengarahkan pandangannya terhadap pergelangan tangannya yang sedang dipegang Felicita. Entah kenapa hinggap sedikit rasa malu di hati Hazel. Sudah lama tidak ada orang lain yang mau mengajaknya, apalagi sampai memegang seperti itu. Kalau dipikirkan lebih lama dari ini, rasanya ia ingin menangis. Ia rindu kampung halamannya.

    -“M-memang ada yang salah dengan hal ini? Dia hanya terlihat kedinginan, dan aku hanya ingin membawanya ke dalam,”-

    -“Haha, senang melihatmu seperti biasa,”-

    Sepertinya percakapan itu sudah sedikit melewati batas sepengetahuan Hazel. Ia yang sedari tadi mendengarkan hanya mengikuti pandangan dari tiap-tiap asal suara. Ia hanya terheran-heran setelah melakukan olahraga mata, seakan menonton pertandingan tenis. Terakhir yang dilakukannya adalah tersenyum kepada Felicita yang tiba-tiba memalingkan mukanya. Mereka terlihat akrab…

    Memang, Hazel belum sama sekali akrab dengan Felicita. Jadi, ia tidak tahu apapun mengenai Felicita selain seorang Ketua Dewan, teman sekelas… seorang lady mungkin? Hal terakhir pun juga hanya sebuah tebakan Hazel belaka. Semoga ia bisa akrab juga di kemudian hari..mungkin itu mustahil.

    Kini tubuh Hazel tak memperdulikan lagi hawa dingin bawaan salju yang berada di sekitar, melainkan ingin segera pergi dari tempat ini. Kakinya sangat ingin ia gerakkan, lari-lari ditempat mungkin? Jika saja bisa, ia dengan sangat segera berkata –aku mau ke toilet- dan lari secepat mungkin ke dalam gedung. Tapi ibarat seekor semut kehilangan sarangnya, itu sangat sulit untuk dilakukan Hazel. Benar-benar tak enak rasanya berada di antara orang yang tengah menjalin percakapan. Seakan pengganggu.

    -“Senang juga bertemu denganmu, Nona Ungu,”-

    Seseorang yang barusan berkata kini diperhatikannya oleh Hazel. Ah, lelaki ini sedang melakukan penghormatan ala daerah ini…rupanya. Segan, Hazel dengan ragu menganggukkan kepalanya kepada lelaki itu.

    Tunggu. Apa yang tadi lelaki pirang itu katakan? Kalo tidak salah dengan laki-laki itu memanggil Hazel dengan sebutan –nona ungu-? Berapa kali lagi ia akan mendapatkan sebutan ungu kembali? Sudah sekian kalinya ia dipanggil demikian di sekolah barunya ini. Sangat sedih memang. Akhir-akhir ini saja selalu saja terdengar bisikan keras dari para siswa yang tengah berkumpul, geng mungkin, di sekitar ketika Hazel sedang melewati mereka. Mengingatnya saja membuat tubuh Hazel menegang, irisnya mengecil mengingat itu. Hazel yakin mereka sedang membicarakan dirinya saat itu.

    ReplyDelete
  8. Hazel tak menyadari jika jemari tangan kanannya terkepal saat ini. Otaknya tak peduli jika Felicita merasakan pergerakan tersebut, padahal Nona Chamberlain itu sedang memegang tangannya itu. Setelah dengan pelan Hazel merenggangkan jemarinya, kemudian ia mengulang gerakan lelaki pirang itu sambil tersenyum licik, dan bersuara sinis, “Hazel Blodwyn, tuan.. Bukan no--”

    “Eh?” tiba-tiba Hazel dengan kesadaran penuhnya kembali, ia merasakan hawa panas di bawah leher sebelah kanannya. –Oh tidak, ini terjadi lagi,-katanya dalam hati. Matanya sedikit membelalak terkejut apa yang baru saja ia lakukan dan katakan. Hazel melihat tangan kanannya yang kini sudah terbebas dari pegangan Felicita. Kapan ia melakukannya?

    “Ma-maaf..maafkan aku..”

    Hanya kata itu yang bisa ia lontarkan terhadap lelaki itu. Wajahnya hanya tertunduk, menghadap tumpukan salju di bawah sepatu bot-nya. Lehernya masih terasa panas, ia mencoba untuk menutupi lehernya. Angin dingin yang menerpa membuat rasa panas di lehernya semakin menjadi saja. Giginya sedikit menggigil, untuk menutupinya ia merapatkan jajaran gigi atas dan bawahnya. Kini jantungnya berdebar. Bukan karena dia menyukai lelaki di depannya ataupun sejenis hal itu, melainkan karna perilaku yang tiba-tiba saja tak bisa ia kendalikan tadi. Bagaimana bisa hal itu terjadi lagi meski ia sudah berada di sini? Ia kini berharap orang-orang di sekitar sana tidak menyebutnya aneh atau mungkin lebih parah, sesuatu yang patut untuk dijauhi. Itu saja.

    Aduh.. Bagaimana ini…? Aku takut…..Takut dibenci………
    .
    .
    -“Fel!” “Nathan, kau datang!”-


    ……..??!!
    Oh my God! Take me away from here!

    ReplyDelete