Tuesday, March 5, 2013

My Room-mate

Sore ini waktunya Hazel mengetahui kamar barunya di asrama putri Granfield-Alven. Setelah kedatangannya tadi pagi dan menemukan berbagai macam kenalan baru, kini saatnya ia beristirahat sejenak. Di sinilah dia sekarang, tengah berjalan didampingi seorang gadis bersurai cokelat panjang, dengan model kelabang kecil di tiap sisi kepalanya.



“Itu dia!” seru gadis di samping Hazel lantas menunjuk sebuah pintu berpoles putih tulang terpampang sejauh sekitar 5 meter dari tempat mereka.


Hazel hanya tersenyum heran menanggapi semangat yang keluar dari gadis di sampingnya itu. Tak lama mereka sampai di depan sebuah ruangan setelah melewati beberapa pintu bermodel sama, hanya saja dengan nomor yang berbeda.

“Oh iya, tadi kita belum sempat berkenalan. Siapa namamu? Aku Melody Stanchore. Panggil saja Melody. Kelas 3-A.  Ketua asrama di lantai empat, gedung asrama putri Grandfield-Alven ini. Bertanggung jawab atas segala hal yang ada di lantai ini. Salam kenal…..Em..Gadis bersurai ungu? Kekekekeke~” ucapnya sambil menyerahkan tangan kanannya di depan Hazel.

Hazel menoleh ke arah siswi yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Melody. Tubuh Melody sedikit lebih kecil daripada Hazel, begitu juga tingginya. Mata Melody tampak ceria dari awal bertemu tadi sampai terakhir memperkenalkan dirinya, sangat terakhir –mengejek? Tapi Hazel sendiri tidak bisa melihat suatu ejekan, bahkan hinaan di dalam mata Melody.

“...Hazel Blodwyn. Panggil saja Hazel. Kelas 2-B. Salam kenal juga,” jawab Hazel sopan sembari menyambut hangat tangan kakak kelas di depannya. Tersenyum. Sekilas menampakkan sedikit kesedihan di matanya.

“Ah! Maafkan aku! Aku hanya bercanda tadi menyebutmu surai ungu. Jangan dianggap serius. Okay?”

“No problem, Melo--.”

“Melody!! Gawat! Baru saja aku dengar Viero berkelahi lagi dengan seorang siswa laki-laki!”

Belum selesai Hazel berkata, tiba-tiba terdengar suara keras dan panik dari arah lorong yang telah dilewatinya tadi. Mungkin asal suara itu dari ujung pintu utama menuju deretan pintu kamar di lorong tempat Hazel berdiri.

“Oh my God! Lagi? Yang benar saja. Dimana dia sekarang?” teriak Melody sedikit panik menjawab suara memanggilnya barusan.

“Di lapangan basket! Cepatlah!!”

“Eh? Eh? Ma-maaf ya Hazel. Aku rasa aku harus ke sana terlebih dahulu. Kamu tidak perlu ikut. Kamu istirahat saja. Baru sampai kan? Aku duluan ya! Kuncinya aku masukkan ke dalam kantongmu tadi. See ya!”

“.........Huh?”

Hazel hanya berdiam diri. Tangannya ingin meraih Melody, seakan tidak ingin ditinggal sendirian.

Berkelahi? Siapa tadi? Viero? Ragu. Sepertinya dia seorang siswi di asrama ini. Tapi kenapa seorang siswa ‘perempuan’ berkelahi? Hazel hanya menggeleng. Ia tak mampu berpikir jernih saat ini. Tubuhnya kecapekan akibat aktifitas padat hari ini. Ditambah udara di musim dingin ini yang membuat tubuhnya tidak terlalu fit.

“Sebaiknya aku masuk saja...” ucap Hazel resah.

Tangan Hazel menggerogohi kantong mantel cokelat yang sedang ia kenakan, mencari sesuatu untuk membuka pintu berangka 402 di depannya. Bunyi gemerincing terdengar samar dari balik kain cukup tebal di tubuhnya. Benar, terdapat kunci di dalam kantongnya. Tapi kapan Melody memasukkan kunci itu? Hebat sekali…

Segera Hazel mengeluarkan benda berwarna emas itu. Sejenak ia kemudian berdiam diri. Enggan melakukan perbuatan yang hendak ia kerjakan tadinya. Jemarinya menggenggam, lalu dengan mantap ia ketukkan pada pintu itu. Diam menunggu respon, tapi gagal. Sekali lagi ia ketuk, tidak ada respon lagi. Berfikir sesaat akhirnya ia menyerah juga. Dimasukkannya kunci dari Melody tadi. Memutar, kemudian membuka perlahan pintu yang cukup tinggi itu.

“Se-selamat sore…” ucapnya canggung.

Hening. Tidak ada jawaban. Hanya ada suara detik jam yang bergerak dari salah satu sudut ruangan.

Kini tampak jelas isi ruangan di hadapannya. Ruangan itu didominasi warna biru langit dan putih. Cantik. Selebihnya berbagai macam perabotan dan benda-benda menyesuaikan. Berbeda warna. Tapi tetap berkombinasi memadu menjadi satuan yang unity. Indahnya..

“Sepertinya tidak ada orang di dalam….”

Hazel masuk ke dalam ruangan yang cukup besar itu setelah mengambil kunci yang ia gunakan tadi. Ruangan itu memang berkapasitas dua orang. Namun di sana tidak ada satupun orang, hanya beberapa barang milik seseorang di sekitar tempat tidur bawah. Tidak lain seseorang itu menempati tempat tidur di lantai bawah. Sekitar satu meter di samping sebuah meja belajar kayu terdapat tangga putar menuju tempat tidur di atas. Sudah pasti di sanalah tempat yang sudah dipersiapkan untuk Hazel.

Setelah menggantungkan mantel luar dan melepas sepatu bot di tempatnya –di samping pintu, Hazel melangkahkan kakinya menuju tangga putar itu. Masih dengan koper merah tentunya, ditariknya secara perlahan. Dipegangnya ganggang kayu tangga putar itu, diperhatikannya, kombinasi cantik antara besi dan kayu. Kemudian ia pendekkan pegangan koper miliknya, bersiap mengangkatnya menuju lantai atas. Butuh usaha keras untuk melakukannya, yang jelas tidak secapek yang ia lakukan tadi pagi. Dari lantai bawah menuju lantai tempat kepala sekolah berada. Sungguh hari yang melelahkan.

Sampai di atas ia langsung merebahkan diri di atas tempat tidur barunya. Rasanya nyaman, ditambah bantal yang lembut menyentuh telinganya. Kelelahan. Pandangannya menelusuri sisi bagian langit-langit melengkung yang dibuat sedemikian rupa. Perlahan kantuk menyerang pelupuk matanya. Belum sempat ia memasuki alam mimpinya tiba-tiba terdengar suara ramai dari luar ruangan.

“Hm?”

Entah kenapa suara-suara itu memaksa Hazel untuk membuka mata. Masih lelah ia berusaha bangkit-duduk di atas tempat tidurnya. Pandangannya diarahkan menuju pintu kamar di bawah. Kelopak matanya masih belum terbuka sempurna saat ini.

BRAK!

Tiba-tiba seorang gadis bersurai hitam panjang masuk ke dalam ruangan dengan kasarnya. Sontak membuat Hazel kaget dan memaksa kelopak matanya terbuka lebih lebar. Hazel memperhatikan.

Gadis yang baru saja masuk itu mengenakan jaket tebal berlapis dengan syal hijau tua membalut lehernya. Sepatu bot-nya ia lepas dan meletakkannya dengan asal di samping sepatu bot Hazel. Berdiam diri sejenak memperhatikan bot milik Hazel. Lalu dengan santainya ia menoleh ke arah Hazel yang tengah memandangnya dengan tatapan heran. Tatapannya terhadap Hazel tampak tidak menyenangkan. Hazel hanya membalasnya dengan senyuman hangat, walau kantuk masih membayanginya. Diperhatikan lebih lanjut, terdapat luka di bagian tulang pipi gadis itu, terdapat pula memar di dagu sebelah kirinya.

“Hei Vie----“

BLAM

Melody yang tadi terlihat di luar, seketika menghilang, akibat pintu yang ditutup oleh gadis tadi. Gadis terluka itu mengunci pintu kemudian dengan sedikit terhuyung berjalan menuju tempat tidur di bawah Hazel. Segera Hazel bangkit dan bergegas menghampiri seseorang yang baru dilihatnya barusan. Setelah berada di bawah, Hazel berjalan perlahan mendekati gadis tadi.

Gadis itu tampak kelelahan, wajahnya pucat, dan terlihat sedang mengatur nafasnya sejenak dalam posisi berbaring. Tangan kanannya dengan sengaja menutup wajahnya. Kakinya masih menempel pada lantai.

“..Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Hazel khawatir dengan kondisi seseorang yang ditanyanya.

“….”

“A-aku Hazel… Hazel Blodwyn. Penghuni baru kamar ini…”

Mungkin sedikit sapaan dan perkenalan pertama dari Hazel akan membuat suasana sedikit lebih berubah. Hazel menatap dengan was-was ke arah gadis itu. Sepertinya siswi yang dimaksud tadi adalah gadis sekamarnya.

“Aku Viero Omelio. Ku mohon. Jangan ganggu aku,” ucap gadis bersurai cokelat itu sedikit berteriak.

“Ma-maaf...”

Sebenarnya Hazel sangat ingin mengenal lebih jauh teman sekamarnya ini. Tapi kelihatannya kenalan barunya ini saat ini tidak mau diganggu. Padahal tadinya Hanzel hendak membantu merawat luka yang tengah didapat gadis yang bernama Viero itu. Apa boleh buat, yang dilakukan Hazel sekarang hanya berjalan menuju tempat tidurnya. Beristirahat sebentar sampai jam makan malam datang.

Berbaring. Terlelap tidur.

------------------------------------------------------------------------------------------------
oRiena


Wednesday, February 27, 2013

[RPG] In The Snow Like This


“Kau tahu, kemarin aku menemani ayahku bertemu dengan seseorang dari Prancis,” ujar seorang lelaki kepada seorang gadis kecil dengan rambut coklat sebahu dan iris biru terang.

“Hm?” jawab si gadis surai coklat kurang antusias. Terang saja, sudah lebih dari tiga hari lelaki berambut pirang ini bercerita macam-macam tentang ayahnya yang akhir-akhir ini mendapat tamu penting dari sana-sini.

“Ayolah, setidaknya dengarkan ceritaku, Fel,” balasnya sambil mengguncang-guncang tubuh gadis surai coklat. Gadis Felicita yang tengah memerhatikan Bunga Mawar yang baru kuncup itu merasa terusik, sontak memasang wajah cemberut. Pipinya ia kembungkan, sembari mendengus kesal. Lelaki bernama Nathan ini tidak akan diam jika dia tidak mendengarkan ceritanya terlebih dahulu.

“Baiklah,” ucap Felicita lantas sambil membalikkan tubuhnya yang kemudian kini menghadap ke arah sumber suara rusuh barusan. “Apa yang mau kau ceritakan, Nate?”

Nathan meringis, ah lebih tepatnya tersenyum lebar. Senyum di antara rasa puas karena telah berhasil mengundang atensi Fel, dan senyum karena kini ia bisa bercerita semaunya. Lalu dengan sekali gerakan, jari telunjuknya kini telah berada di pipi kanan Felicita. Bersamaan dengan itu jarinya mendorong pipi Felicita yang sedang kembung ini.

“Jelek sekali kau, haha. Jangan pasang wajah seperti itu. Aku tahu kau memang tak bisa membuat lelucon, tapi demi apa pun jangan membuat wajah seperti itu. Walau wajah itu cocok untukmu, haha,” ujar Nathan tergelak.

Felicita menajamkan pandangan matanya ke arah Nathan. Seketika suasana berubah menjadi hening, hanya ada gelak tawa Nathan yang sangat garing.

“Ha-ha-ha---haaa?”

Perlahan suara tertawa Nathan hilang ditelan angin yang kini sedang bertiup kea rah mereka. Felicita masih menajamkan pandangan matanya ke arah Nathan. Nathan yang tersadar akan pandangan Felicita langsung berhenti tertawa dan bertingkah kebingungan.

“Ah, kau memang tidak pernah bisa menerima lelucon, Fel,” ucap Nathan sambil meletakkan kedua tangan di pinggangnya. Bergeleng-geleng.

“Tapi, Tuan Nathan. Lelucon Anda kali ini agaknya membuat Nona Felicita tidak nyaman. Anda tidak boleh melakukan hal semacam itu kepada seorang gadis,” ucap seseorang dari belakang Nathan.

Nathan menengok. Yang baru berbicara itu adalah seorang lelaki berambut hitam dengan pakaian hitam dan topi di kepalanya yang sedang membawakan sebuah nampan.

“Saya membawakan Anda the, Tuan. Dan karena kita kedatangan tamu, saya telah mempersiapkan teh Mallow Blue khusus untuk Nona Felicita,” ucap lelaki itu sambil meletakkan satu set minum the di atas meja porselen berwarna putih. Felicita senang bukan main. Dia langsung mendekati lelaki itu dengan mata berbinar-binar.

“Teh Mallow Blue ini semula berwarna biru, namun lama-lama warnanya akan berubah menjadi ungu,” ucap lelaki itu dengan terampil menuang teh ke cangkir. “Lalu, setelah saya menambahkan jeruk, maka warna teh akan berubah menjadi warna merah muda yang sangat indah,” tambah lelaki itu.

“Cantik sekali…” ucap Felicita sambil menatap cangkir berwarna bening itu dengan berbinar. “Kau hebat seperti biasa, Luke. Bahkan kau jauh lebih hebat dari Nathan.“

“Eh…??!” teriak Nathan sambil membelalakkan matanya ke arah Felicita. Felicita tidak menggubrisnya. Dia kini sibuk menyesap teh Mallow Blue. Menyesap teh adalah waktu yang berharga bagi seorang Felicita.

“Maaf, Nona Felicita. Tapi saya hanya seorang pelayan biasa. Tuan muda-lah yang mengajari saya macam-macam,” ujar Luke sambil membungkukkan badan dan mengerdip sebelah mata kepada Nathan. Nathan yang melihat hal itu langsung tersenyum sangat lebar.

“Hei, kau dengar itu bukan, Fel?” ucap Nathan sambil berlagak menyombongkan diri kepada Felicita. Namun lagi-lagi Felicita hanya menyesap tehnya semakin dalam. Mallow Blue bahkan jauh lebih menarik ketimbang memerhatikan perkataan Nathan.

“Hei, Fel. Dengarkan aku!”

Ah, pagi yang sangat ramai.
***
Itu delapan tahun yang lalu.

Felicita berjalan menyusuri halaman Grandfield-Alven yang kini didominasi benda putih yang berulang jatuh dari langit. Seragamnya tertutup oleh mantel putihnya, dan lehernya dilindungi oleh belitan syal berwana merah jambu. Tangan kanannya tengah memegang payung yang awalnya berwarna merah, namun kini menjadi warna merah bercak putih. Di tengah udara dingin seperti ini, role macam apakah yang sedang dimainkan seorang Nona Chamberlain ini?

Menunggu.

Emm, tidak. Tepatnya berjaga-jaga.

Kemarin malam seusai mengurusi urusan klub berkuda yang sedang mengalami beberapa masalah finansial, handphone-nya berulang kali berdering. Sebuah nama jelas tertera di situ. Sangat familiar. Karena itulah, di tengah salju menyebalkan ini, Felicita rela menunggunya datang. Bukan karena ingin segera bertemu, tapi lebih ke aksi penjagaan.

“Felicita, apa yang kau lakukan di tengah salju begini?” ucap seseorang dari arah samping kanannya.

Felicita menengok. Dua orang gadis pirang sedang berjalan, sama sepertinya. Hanya saja mereka saling berbagi payung, tidak sepertinya yang hanya sendirian. Gadis yang baru menyapanya adalah gadis tinggi dengan rambut pendek. Dia adalah Cecille Spencer, seorang putri dari pemilik toko berlian yang berada di bagian barat London. Di sampingnya adalah gadis pemalu dengan rambut pirang panjang yang diikat ke bawah. Cynthia Cashiraghi, anak kedua dari pemilik butik Cashiraghi yang merupakan butik terbesar di London. Felicita melempar senyum ke arah mereka berdua, sambil melambaikan tangannya.

“Tidak. Aku hanya sedang… berkeliling sejenak. Kurasa tidak ada salahnya menikmati pemandangan yang hanya terjadi beberapa bulan dalam setahun.”

Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang melakukan penjagaan ekstra terhadap area ini.

“Ah, begitu. Kau sangat mengagumkan. Kau pandai sekali menemukan hal yang bisa membuatmu nyaman,” ucap Cecille sambil merapatkan syal-nya yang tadi sempat turun beberapa senti.

Perkataan barusan. Itu pujian atau sindiran?

“Hati-hati, Nona Chamberlain. Kau bisa sakit jika berlama-lama di luar pada cuaca seperti ini.”

Kini Cashiraghi yang berbicara.  Felicita hanya mengangguk pelan, mengucapkan kata yang terdengar seperti, “Kau juga” namun tertelan oleh suara angin yang menderu. Kedua gadis barusan lewat setelah itu, meninggalkan Felicita yang tengah berdiri di tengah salju dengan payung merahnya. Cuaca semakin dingin dan orang yang sedang ia tunggu tidak kunjung terlihat. Felicita meraih pocket watch-nya, dan jamnya menunjukkan waktu beberapa menit lebih awal dari waktu kedatangan orang itu. Felicita menatap jam itu bimbang. Hatinya berkata, untuk apa aku bersusah berdiri di tengah salju seperti ini hanya untuk menunggu orang itu?

Mendengus pelan.



Timeline: Pertengahan Januari
Waktu: Sabtu Pagi (9 a.m)




Tuesday, February 5, 2013

extra backgroud of Aiko Annora Luvena


“hmmmff…. dingiiin sekali ya bunda” , ujar gadis cantik bermata biru, Annora.
“iya sayang..”, jawaban sang bunda yang terasa sangat kaku. Keiko memandang Antoine tajam.

Pagi ini mereka bertiga menyempatkan diri ke kota Biei, dimana pada saat musim semi, bunga-bunga yang indah terhampar luas bak permadani. Namun tidak untuk kali ini. Saat ini musim dingin dan hamparan itu dipenuhi oleh salju.

“Annora… “ , kata sang ayah.
“Iya ayah… ada apa?” , jawab Annora dengan gigi gemerutuk menahan hawa dingin.
“Ayah dan Bunda memutuskan untuk menyekolahkanmu di Grandfield Alven. Kau harus mandiri di sana ya. 
Karena kami fikir, jika kamu tetap di Paris, kamu selamanya tidak akan punya teman Aiko sayang.”, ujar Antoine dengan mata berkaca-kaca. Aiko adalah panggilan sayang kedua orangtuanya.

“Itu di London kan? Itu sekolahnya Valery kan?”, ujar Annora pelan.
“Iya sayang. Kami memilihkanmu tempat di sana agar ada yang menjagamu.”, jawab Keiko dengan berlinangan air mata.

Ia tertunduk. Tak mampu menahan air mata.

Kenapa aku harus berpisah dengan Ayah dan Ibu. Aku tidak mengenal daerah itu. Bagaimana nasibku nanti. Aku tak mampu membayangkan ketika disana aku kembali tak punya teman. Dan lagi-lagi temanku hanya Valery, lebih tepatnya sepupuku.

Keiko memeluknya erat. Pun dengan Annora. Mereka tergugu bersama. Antoine berbalik badan dan kembali ke rumah kakek. Keiko menyusulnya dan jalan bersisian. Gadis berambut putih itu menatap langit dan hamparan salju.

Apakah ini suatu pertanda?
******
International Airport of Tokyo

Mereka saling berpelukan. Annora tak mampu menahan air mata ini. Ia tak mampu berpisah dengan kedua orangtuanya. Namun, ia yakin, mereka memilihkan jalan ini karena mereka sayang dengan gadis kecilnya itu.

“Ayah… Bunda… doakan Aiko ya.. semoga di sana Aiko dapat teman banyak dan Aiko sehat terus ya”, ucapnya sambil tersenyum menahan tangis.
“Iya sayang.. Aiko pasti bisa”, jawab Keiko sambil mencium kedua pipi gadis semata wayangnya itu.
“Ayah percaya kamu bisa sayang”, peluk Antoine.

Dan Annora pun pergi menuju terminal keberangkatan. Valery telah menunggunya di London.

Apa kabar Valery ya? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu,val.

******
London… Je suis venu…

Annora menatap ke sekeliling Bandara International di London. Ia tidak menemukan sosok Valery. Ia berjalan menuju kursi tunggu di depan sana. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

“Annora sayang.. Kamu masih mungil dan cantik seperti yang dulu”, ujar lelaki itu.

Deg!
Suara ini tidak asing baginya. Ia menengok ke belakang. Ya, dia! Guratan wajahnya semakin dewasa dan semakin tampan. Annora terbengong.

“heh…kok kamu bengong sih? Ayo sini ku bantu bawain barangnya. Aku sudah memesan taxi di sana”, kata Valery sambil menunjuk salah satu mobil di seberang sana.
“hah? Iya Val.. ayo… aku juga lelah duduk berjam-jam di pesawat”, jawabnya sambil melepas perasaan canggung ini.

Selama perjalanan menuju GA, Valery bercerita banyak tentang keadaan GA. Dia juga menanyakan tentang sekolah Annora yang dulu dan kemampuan musiknya. Ia lebih banyak mendengarkan, menjawab singkat, dan tersenyum.

“Welcome to GA, Aiko Annora Luvena. This place will be a great place. Trust me!” , ujar Valery sambil menggenggam tangan Annora dan memberikan senyuman terindahnya.
Ia hanya membalasnya dengan tersenyum simpul.

******
Tak terasa sudah hampir setahun Annora berada di asrama ini. Ia menatap seragam yang ada di dalam lemari. Liburan pun sudah berakhir. Saatnya kembali sekolah dan bertemu dengan teman-teman yang ya begitulah. Di sini pun ia belum menemukan sahabat. Tapi ia mempunyai 2 orang teman dekat. Ya  itu sudah merupakan hal yang sangat luar biasa dalam sejarah hidupnya.

Semoga kita selalu begini sampai maut memisahkan. Aku sayang kalian.

Menatap pemandangan di luar sana dari jendela kamar asrama. 

Monday, February 4, 2013

[RPG] New Life

“Apa tidak apa-apa jika kau sendirian di sana?”

“Tidak apa-apa kok. Tak perlu khawatir,” ujar gadis beriris violet sambil memperlihatkan senyum manisnya.
Panggilan penerbangan pun kembali berkumandang, membuat jantung si gadis berdegub lebih cepat. Ia membuang nafas dengan pela, kemudian mulai berbicara lagi sambil memperbaiki syal yang melingkari lehernya.

Wohl, sepertinya aku harus berangkat sekarang,” ujarnya dengan senyum yang sedikit ia paksakan. Kemudian ia memeluk satu persatu seorang lelaki jangkung dan wanita berparas lembut di depannya.

“Jangan lupa untuk menghubungi kami,” kata sang lelaki dengan suara pelan tapi mantap.

“Jaga kesehatan ya, Violet,” kata wanita itu dianjutnya dengan mencium kening seorang yang ia peluk.

“Baik ayah, ibu.”

“…”

“Karl, kau tidak mau mengucapkan sesuatu kepada Violet?” lanjut sang ibu sambil mengembangkan senyum khasnya.

Pemuda yang ditanya hanya diam, pandangan yang tadinya kosong seketika berubah hangat. “Ah, maafkan aku. Aku hanya..”

Kini panggilan terakhir penerbangan maskapai berkumandang.

“Ah gawat..,” panik Violet sambil meraih koper merah di sampingnya. Tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepalanya dengan lembut.

“Aku akan merindukanmu,” ujar Karl dengan senyum dan suaranya yang lembut.

“….Aku juga,” senyum lembut Violet menyertai kata-kata itu.

Sorgen,” lanjut Karl sambil mengulurkan tangannya.

Ja, danke. Fufufu,” jawab Violet pasti dengan menyambut tangan hangat di depannya.

Raut muka pemuda bersurai pirang itu tampak sedikit bingung dengan jawaban Violet. Ketika Violet mengakhiri aktifitasnya tadi ia merasa ada sesuatu yang hilang. Ia hanya berharap semoga yang ia lakukan ini benar meskipun memberatkan orang-rang yang dekat dengannya.

Tschüs!”

Setelah mengucapkan kata-kata itu Violet bergegas menuju pesawat yang tengah menunggunya. Belum sampai ia ke dalam, ia menoleh kembali ke balik bahunya. Masih ingin melihat orang-orang tercintanya. Didapatnya pemandangan 2 orang dewasa melambai kepadanya, sedangkan pemuda yang sedikit diharapkannya untuk merespon hanya tersenyum lembut.

Danke,” gumamnya sambil tersenyum manis sekali.




Pagi ini salju turun dengan lebat, sementara mentari yang biasanya menyilaukan mata tampaknya terhalangi oleh awan. Terlihat di seberang jalan menuju sebuah gedung sekolah seorang gadis berjalan tergesa-gesa dengan koper di tangannya. Gadis itu mengenakan mantel cokelat dilengkapi dengan syal rajutan buatan tangan yang memang hangat ketika dipakai. Saat ini ia hanya ingin menikmati secangkir susu cokelat hangat buatan ibunya di rumah. Ia membayangkan bercanda dengan teman dekatnya sambil merasakan kehangatan dari api di perapian. Namun semua keinginan itu ia buang jauh-jauh sembari menggeleng-gelengkan dengan kuat kepalanya.

Meine Güte. Tenang saja Violet. Di sini kau akan menemukan sesuatu yang selama ini kau cari.”

Bersama keinginan kuat akan sesuatu yang dicari itu, ia setengah berlari dengan meggeret koper besarnya. Pita merah yang menghias sisi kiri kepalanya pun menari dengan indah ditiup angin dingin. Sepatu boat yang ia kenakan sedikit terhambat oleh salju-salju yang sudah menumpuk di terotoar. Langkah ringan itu tengah melewati gerbang sekolah. Kini Violet berada tak jauh di depan gedung sekolah itu. Berdiam diri mempersiapkan segala sesuatu hal yang akan terjadi apapun nantinya itu.

Grandfield-Alven SHS

Itulah rantaian kata yang terukir di bangunan sekolah ini. Sekarang tempat inilah dimana Violet akan tinggal.
“Phew.. Aku harus kuat,” gumamnya.

Perlahan dan pasti ia mulai menapaki anak tangga menuju teras depan gedung sekolah. Setelah melewatinya ia membuka pintu kaca raksasa dengan mantap. Ketika masuk, ia mendapatkan pemandangan yang mengherankan dirinya sendiri. Di hall tempatnya berada tidak ada seorang pun yang seharusnya ada. Ia melirik jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya.

Pukul 7 pagi. Sekarang hari Kamis, tanggal 26 Desember ya. Aku rasa aku kepagian kalau harus ke kelas sekarang. Dimana ruang kepala sekolah ya?” ucapnya dalam hati.


------------------------------------------------------------------------------------------------
oRIena


So siapa yang bakal menyambut chara saya nih? :p

Notes:
wohl = well
sorgen = take care
ja = yes
danke = thank you
Tschüs! = Bye!
meine Güte = my God

Sunday, February 3, 2013

Aiko Annora Luvena



Aiko / Annora

Visualisasi: Noumi Kudryavka
Taken From: Little Busters!
Credit: KEY
Nama : Aiko Annora Luvena

Panggilan : Annora, Aiko

Asal negara : Perancis-Jepang
Umur: 16 y.o.

TTL: Hokkaido, 14 Februari

Tinggi/berat: 155 cm/50

Golongan Darah : A

Gender: Female

Status : Single
Personality : baik hati, bila sendirian suka melamun, pendiam, pemalu, murah senyum, introvert
Kelebihan : Selalu menjadi juara kelas. Mendapat peringkat 2 Olimpiade Sains International Fisika. Jago bermain biola dan piano. Pernah menjuarai kontes biola tingkat nasional.

Kelemahan : Karena mengidap penyakit kanker otak, ia tidak boleh terlalu kecapekan. Namun, sikapnya yang keras membuat ia sering memaksakan diri untuk kuat sehingga ia mudah collapse. Suka sakit kepala yang menyebabkan teman-temannya takut dengannya.

Penampilan : Berambut putih lurus panjang yang selalu terurai dengan jepit kelelawar di sebelah kanan. Bermata biru, diturunkan dari ayahnya yang berkebangsaan Perancis. Kulitnya berwarna putih yang diturunkan dari sang ibu yang berasal dari Jepang. Dari luar terlihat sehat, tapi sebenarnya rapuh.

Background Story : 
Annora dilahirkan di kota Hokkaido, Jepang. Sejak kecil ia senang sekali bermain di kota kecil Biei yang penuh dengan taman bunga. Namun, sejak menginjak junior high school, ia pindah ke Paris bersama kedua orangtuanya. Antoine yang berasal dari Perancis kuliah di Jepang dan bertemu dengan Keiko yang juga menempuh sarjana kedokteran di Universitas Tokyo. Setelah menikah, kedua orangtuanya memilih tinggal di Paris. Namun, beberapa hari sebelum Annora dilahirkan, neneknya di Hokaido meninggal dunia. Sehingga, orangtua Aiko harus kembali ke Jepang dan menemani sang kakek.
Sebelum meninggal, neneknya berpesan kepada Antoine dan Keiko agar si jabang bayi diberi nama yang memiliki arti cahaya yang memberi cinta kepada setiap orang. Sehingga orang tuanya memberi nama Aiko Annora Luvena. Aiko yang berarti cinta, berasal dari bahasa Jepang. Annora yang berarti cahaya, berasal dari bahasa Yunani. Dan Luvena yang berarti cinta, bahasa ini berasal dari bangsa Ibrani.
Annora merupakan anak semata wayang, sehingga ia sangat di sayang oleh kedua orangtuanya. Sebenarnya Annora memiliki kakak perempuan, namun kakaknya meninggal dunia ketika menginjak 4 bulan usia kandungan. Meskipun kedua orangtuanya dokter, Annora merupakan anak yang sering sakit-sakitan. Annora sering mengeluh sakit kepala. Penyakitnya baru diketahui ketika ia naik kelas 2 SMA, kanker otak.
Karena sejak kecil suka mengeluh sakit kepala, teman-teman sekolahnya takut pada dirinya. Sehingga, ia tidak mempunyai teman di sekolah. Demi mengisi kesendiriannya, ia memilih untuk bermain musik seperti piano dan biola. Seusai sekolah, Valery mengajarkannya bermain piano dan biola. Berkat kecerdasannya, hanya dalam waktu 1 bulan Annora mahir memainkan kedua alat musik tersebut. Hingga ketika kelas 2 SMP ia memenangkan lomba biola se-Jepang. Selain itu, kecerdasan yang dianugerahkan untuknya membuat ia selalu menjadi juara umum di sekolahnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Ia juga suka menciptakan sebuah lagu sambil memainkan piano. Kesendirian yang menghinggapi kehidupan sehari-harinya, ia pergunakan untuk menghasilkan karya-karya terbaiknya dan ia kirimkan ke Jepang sehingga ia menjadi anak yg terkenal di Jepang, namun tidak di Perancis. Ketika liburan sekolah, ia selalu berlibur ke Jepang.
oh Tuhan....izinkan aku membahagiakan kedua orangtuaku dan merasakan kasih sayang dan cinta dari orang yg kucintai..karena aku tak ingin sendiri..
biarkan aku mengukir kebahagiaan ini bersama kemilau sang bintang ditemani cahaya sang rembulan. aku merindukanmu...

Relationship :
parents : Antoine Louis (Father) , Keiko Fukada (Mother)
old sister : Ayane Cornelia Middleford
cousin : Valery Riche Louis (Riki Yanase)
acquitance : Oscar William (Yagami Kazuya) , Hermoine Oldrich (Ayatsuji Tsukasa) , Eleanor Garfield (Minami Touma)




Hazel Violet Blodwyn



Hazel / Violet

Visualisasi        : Matou Sakura
Taken From     : Fate Stay Night
Credit              : Takashi Takeuchi, Megumi Ishihara



Nama Lengkap        : Hazel Violet Blodwyn

Nama Panggilan       : Hazel, Violet
Gender                : Female

Usia                     : 16 y.o

TTL                     : Berlin, 15 December

Tinggi/Berat        : 163cm / 55kg

Status                  : Single
Personality          : Ramah, lebih suka sendirian daripada bersama orang asing, kalem, memiliki suara lembut, tidak mudah marah
Penampilan          : Memiliki surai dan warna iris violet, selalu memakai pita merah kesukaannya yang diberikan oleh satu-satunya teman di Berlin, memiliki bekas keunguan di leher sebelah kanan dan lengan kiri bagian atas akibat infeksi
Kelebihan            : Dapat menyembunyikan emosi walau kadang tak bisa diindahkan dalam keadaan tertentu, dapat membuat cokelat lezat, ringan tangan, memiliki kemampuan memanah

Kelemahan          : Tidak mudah percaya pada orang asing, tidak menyukai keramaian,
memiliki penampilan yang lain (rambut dan mata), takut terhadap darah dan bau-bauan kimia (termasuk obat)

Background Story:
Hazel Obert Conrard dilahirkan bersama kakak kembarnya, Fern Obert Conrard, oleh pasangan Richie Ian Conrard dan Alisa Raviel Hahn. Karena memiliki anak sang ibu harus merelakan pekerjaanya sebagai pianis di salah satu orchestra terkenal di Berlin, padahal Alisa menjadi mahasiswi terbaik lulusan universitas di Vienna .
Sedangkan sang ayah bekerja di salah satu perusahaan industry kimia di Berlin, perusahaan local yang tengah bersaing dengan perusahaan asing yang berlomba mengambil alih, melebur, maupun menghasilkan bahan baku yang dibutuhkan oleh manusia. Tugas Richie mengamati kerja pabrik dan sesekali berada di laboratorium untuk mencampur-campur larutan tertentu. Kadangkala ia juga mengunjungi laboratorium salah satu rumah sakit untuk menyalurkan hobi bersama temannya di sana.
Bertahun-tahun Hazel tumbuh bahagia bersama keluarga sederhana yang ia cintai. Setiap harinya hari-hari dirasa sangat menyenangkan. Dimulai dari bangun pagi yang selalu didahului oleh kakak kembarnya, bernyanyi bersama Fern dengan diiringi alunan piano yang dimainkan oleh sang ibu, kadang bertengkar dengan Fern sampai dua-duanya menangis, sampai belajar merangkai bunga yang didapatkan dari kebun bunga di pekarangan belakang rumah.
Akan tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Menginjak umur 7 tahun, ayah Hazel sudah jarang pulang ke rumah. Alisa hanya tahu bahwa suaminya sedang sibuk bekerja di laboratorium perusahaan suaminya bekerja.
Pada suatu waktu Richie pulang dengan raut muka tak ramah tak seperti biasanya. Matanya merah. Kulitnya pucat. Terdapat garis hitam di sekitar matanya. Ketika ditanya istrinya ia hanya menanyakan dimana Hazel dengan kasar. Ia membawa paksa Hazel yang pada saat itu tengah bermain bersama Fern di pekarangan. Fern yang tidak ingin Hazel dibawa pergi pun langsung mengikuti ayahnya. Merasa ada yang aneh dengan si ayah, Fern mencoba meminta kembali saudara kembarannya yang tengah digendong itu. Karena kesal tidak diberi, Fern menendang kaki Richie sehingga Richie berhenti dan memandang Fern dengan tatapan ngeri. Fern pun menangis dan berlari untuk berlindung di balik sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang. Alisa yang berusaha memohon dengan amat pada akhirnya mendapatkan tamparan keras dari sang suami sampai terjatuh. Hazel yang melihat hal itu seketika menangis dan berteriak kencang, memohon untuk dilepaskan. Tangannya ingin meraih saudara kembarnya dan sang ibu.
Semenjak itu, ketakutan selalu menyertai Hazel. Ia dibawa ke tempat yang asing. Sebuah bangunan tua dijadikan laboratorium untuk menjadi tempat berbagai macam percobaan. Pertama kali memasuki gedung itu Hazel merasa mual mencium bau bahan kimia yang berbaur dengan udara. Setelah di dalam, rasa yang dibencinya itu malah menyeruak, mual makin menjadi karena ia melihat tubuh tergeletak di atas meja panjang seukuran manusia pas. Tubuh itu jelas sekali sudah tidak bernyawa. Benar saja darah berceceran di tubuh mayat itu, tampak organ tubuh sedikit mencuat ke luar, dan kulitnya berwarna ungu-hijau—parahnya hitam. Wajah Hazel pucat, tak sanggup melihat pemandangan menjijikkan itu.
Kini sehari-harinya yang ia lakukan hanyalah berteriak menangis menangis dan terus menangis dalam ketakutan dan kesakitan. Ia manusia yang tidak diperlakukan layaknya manusia, lebih tepatnya sebagai kelinci percobaan. Tubuhnya diserang dengan berbagai suntikan-suntikan hasil percobaan dari cairan-cairan kimia yang berbau tak sedap. Kadang menerima pukulan lemah kadang keras. Sungguh menyiksa. Berbulan bulan ia merima perlakuan itu. Bersama ayah dan rekan-rekan yang semakin gila membuat Hazel menjadi kehilangan kontrol diri. Seiring berjalannya waktu ia menjadi diam, pasrah, dengan pandangan kosong ia hanya menurut apa yang dikatakan semua yang diperintahkan padanya.
Hingga pada suatu hari, setelah berminggu-minggu lamanya, tubuh Hazel sudah mencapai batas menerima banyak zat kimia sehingga kulit yang putih itu penuh warna biru dan ungu. Efeknya tak hanya pada kulit, rambut dan mata pun lambat laun berubah menjadi violet. Betapa senangnya orang-orang gila di sekitar Hazel. Hazel menyadari air matanya tumpah setelah sekian waktu lamanya. Beserta badan yang lemas ia mencoba keluar dari bangunan yang merenggut semua hidupnya. Lari. Ya, ia harus lari. Meskipun itu ayahnya sekalipun. Hazel pun keluar secara diam-diam. Ya, meskipun di luar malam dan gelap. Meskipun saat ini badannya gemetar. Takut.
Semakin menjauhi bangunan itu semakin berat mata Hazel. Sudah berapa lama ia berjalan, yang diinginkan hanya menjauhi tempat mengerikan tadi. Masih takut akan perlakuan itu, memikirkannya saja kepala sudah sakit. Pandangannya kabur, tiba-tiba tubuhnya ambuk. Sebelumnya ia melihat 2 sosok orang dewasa dan anak kecil berlari mendekatinya.
Oh Tuhan.. Aku hanya ingin bahagia dan bertemu keluargaku kembali..

Siblings:
- Fern Obert Hahn [saudara kembar | Perseus as Rider @Fate/Prototype]
- Alisa Raviel Hahn [ibu kandung | Nanami Haruka @Utano Prince-sama]
- Richie Ian Conrard [ayah kandung]
-Karl Luduvico Keifer [sahabat | Arthur as Saber @Fate/Prototype]
-Maddalen Reise Blodwyn [ibu angkat]
-Gary Bert Blodwyn [ayah angkat]
-Viero Lumien Omelio [room-mate | Shinonono Houki @Infinite]
-Kevin Rouin Erth [ketua club panah | Ryunosuke Miyaji @StarrySky Summer]
-Rumina Eoshe Blodwyn [--- | Cecilia Alcott @Infinite]
-Anna Eldora Corda [--- | Watanabe Saki @Shin Sekai Youri]
-Melody Iorn Stanchore [ketua asrama lantai-4 | Alice @Pandora Hearts]