Tuesday, February 5, 2013

extra backgroud of Aiko Annora Luvena


“hmmmff…. dingiiin sekali ya bunda” , ujar gadis cantik bermata biru, Annora.
“iya sayang..”, jawaban sang bunda yang terasa sangat kaku. Keiko memandang Antoine tajam.

Pagi ini mereka bertiga menyempatkan diri ke kota Biei, dimana pada saat musim semi, bunga-bunga yang indah terhampar luas bak permadani. Namun tidak untuk kali ini. Saat ini musim dingin dan hamparan itu dipenuhi oleh salju.

“Annora… “ , kata sang ayah.
“Iya ayah… ada apa?” , jawab Annora dengan gigi gemerutuk menahan hawa dingin.
“Ayah dan Bunda memutuskan untuk menyekolahkanmu di Grandfield Alven. Kau harus mandiri di sana ya. 
Karena kami fikir, jika kamu tetap di Paris, kamu selamanya tidak akan punya teman Aiko sayang.”, ujar Antoine dengan mata berkaca-kaca. Aiko adalah panggilan sayang kedua orangtuanya.

“Itu di London kan? Itu sekolahnya Valery kan?”, ujar Annora pelan.
“Iya sayang. Kami memilihkanmu tempat di sana agar ada yang menjagamu.”, jawab Keiko dengan berlinangan air mata.

Ia tertunduk. Tak mampu menahan air mata.

Kenapa aku harus berpisah dengan Ayah dan Ibu. Aku tidak mengenal daerah itu. Bagaimana nasibku nanti. Aku tak mampu membayangkan ketika disana aku kembali tak punya teman. Dan lagi-lagi temanku hanya Valery, lebih tepatnya sepupuku.

Keiko memeluknya erat. Pun dengan Annora. Mereka tergugu bersama. Antoine berbalik badan dan kembali ke rumah kakek. Keiko menyusulnya dan jalan bersisian. Gadis berambut putih itu menatap langit dan hamparan salju.

Apakah ini suatu pertanda?
******
International Airport of Tokyo

Mereka saling berpelukan. Annora tak mampu menahan air mata ini. Ia tak mampu berpisah dengan kedua orangtuanya. Namun, ia yakin, mereka memilihkan jalan ini karena mereka sayang dengan gadis kecilnya itu.

“Ayah… Bunda… doakan Aiko ya.. semoga di sana Aiko dapat teman banyak dan Aiko sehat terus ya”, ucapnya sambil tersenyum menahan tangis.
“Iya sayang.. Aiko pasti bisa”, jawab Keiko sambil mencium kedua pipi gadis semata wayangnya itu.
“Ayah percaya kamu bisa sayang”, peluk Antoine.

Dan Annora pun pergi menuju terminal keberangkatan. Valery telah menunggunya di London.

Apa kabar Valery ya? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu,val.

******
London… Je suis venu…

Annora menatap ke sekeliling Bandara International di London. Ia tidak menemukan sosok Valery. Ia berjalan menuju kursi tunggu di depan sana. Namun tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

“Annora sayang.. Kamu masih mungil dan cantik seperti yang dulu”, ujar lelaki itu.

Deg!
Suara ini tidak asing baginya. Ia menengok ke belakang. Ya, dia! Guratan wajahnya semakin dewasa dan semakin tampan. Annora terbengong.

“heh…kok kamu bengong sih? Ayo sini ku bantu bawain barangnya. Aku sudah memesan taxi di sana”, kata Valery sambil menunjuk salah satu mobil di seberang sana.
“hah? Iya Val.. ayo… aku juga lelah duduk berjam-jam di pesawat”, jawabnya sambil melepas perasaan canggung ini.

Selama perjalanan menuju GA, Valery bercerita banyak tentang keadaan GA. Dia juga menanyakan tentang sekolah Annora yang dulu dan kemampuan musiknya. Ia lebih banyak mendengarkan, menjawab singkat, dan tersenyum.

“Welcome to GA, Aiko Annora Luvena. This place will be a great place. Trust me!” , ujar Valery sambil menggenggam tangan Annora dan memberikan senyuman terindahnya.
Ia hanya membalasnya dengan tersenyum simpul.

******
Tak terasa sudah hampir setahun Annora berada di asrama ini. Ia menatap seragam yang ada di dalam lemari. Liburan pun sudah berakhir. Saatnya kembali sekolah dan bertemu dengan teman-teman yang ya begitulah. Di sini pun ia belum menemukan sahabat. Tapi ia mempunyai 2 orang teman dekat. Ya  itu sudah merupakan hal yang sangat luar biasa dalam sejarah hidupnya.

Semoga kita selalu begini sampai maut memisahkan. Aku sayang kalian.

Menatap pemandangan di luar sana dari jendela kamar asrama. 

No comments:

Post a Comment