Hazel / Violet
Visualisasi : Matou Sakura
Taken From : Fate Stay Night
Credit : Takashi Takeuchi, Megumi Ishihara
Nama Lengkap
: Hazel
Violet Blodwyn
Nama Panggilan : Hazel, Violet
Nama Panggilan : Hazel, Violet
Gender
: Female
Usia : 16 y.o
TTL : Berlin, 15 December
Tinggi/Berat : 163cm / 55kg
Status : Single
Usia : 16 y.o
TTL : Berlin, 15 December
Tinggi/Berat : 163cm / 55kg
Status : Single
Personality
: Ramah,
lebih suka sendirian daripada bersama orang asing, kalem, memiliki suara lembut, tidak mudah marah
Penampilan
: Memiliki
surai dan warna iris violet, selalu memakai pita merah kesukaannya yang
diberikan oleh satu-satunya teman di Berlin, memiliki bekas keunguan di leher sebelah kanan dan lengan kiri bagian atas akibat infeksi
Kelebihan
: Dapat menyembunyikan emosi walau
kadang tak bisa diindahkan dalam keadaan tertentu, dapat membuat cokelat lezat,
ringan tangan, memiliki kemampuan memanah
Kelemahan : Tidak mudah percaya pada orang asing, tidak menyukai keramaian, memiliki penampilan yang lain (rambut dan mata), takut terhadap darah dan bau-bauan kimia (termasuk obat)
Background Story:
Kelemahan : Tidak mudah percaya pada orang asing, tidak menyukai keramaian, memiliki penampilan yang lain (rambut dan mata), takut terhadap darah dan bau-bauan kimia (termasuk obat)
Background Story:
Hazel Obert Conrard dilahirkan bersama kakak
kembarnya, Fern Obert Conrard, oleh pasangan Richie Ian Conrard dan Alisa Raviel Hahn. Karena memiliki anak sang ibu harus merelakan
pekerjaanya sebagai pianis di salah satu orchestra terkenal di Berlin, padahal
Alisa menjadi mahasiswi terbaik lulusan universitas di Vienna .
Sedangkan sang ayah bekerja di salah satu
perusahaan industry kimia di Berlin, perusahaan local yang tengah bersaing dengan
perusahaan asing yang berlomba mengambil alih, melebur, maupun menghasilkan bahan
baku yang dibutuhkan oleh manusia. Tugas Richie mengamati kerja pabrik dan
sesekali berada di laboratorium untuk mencampur-campur larutan tertentu.
Kadangkala ia juga mengunjungi laboratorium salah satu rumah sakit untuk
menyalurkan hobi bersama temannya di sana.
Bertahun-tahun Hazel tumbuh bahagia
bersama keluarga sederhana yang ia cintai. Setiap harinya hari-hari dirasa sangat menyenangkan.
Dimulai dari bangun pagi yang selalu didahului oleh kakak kembarnya, bernyanyi
bersama Fern dengan diiringi alunan piano yang dimainkan oleh sang ibu, kadang
bertengkar dengan Fern sampai dua-duanya menangis, sampai belajar merangkai
bunga yang didapatkan dari kebun bunga di pekarangan belakang rumah.
Akan tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Menginjak umur 7 tahun, ayah Hazel sudah jarang pulang ke rumah. Alisa
hanya tahu bahwa suaminya sedang sibuk bekerja di laboratorium perusahaan
suaminya bekerja.
Pada suatu waktu Richie pulang
dengan raut muka tak ramah tak seperti biasanya. Matanya merah. Kulitnya pucat.
Terdapat garis hitam di sekitar matanya. Ketika ditanya istrinya ia hanya
menanyakan dimana Hazel dengan kasar. Ia membawa paksa Hazel yang pada saat itu
tengah bermain bersama Fern di pekarangan. Fern yang tidak ingin Hazel dibawa
pergi pun langsung mengikuti ayahnya. Merasa ada yang aneh dengan si ayah, Fern
mencoba meminta kembali saudara kembarannya yang tengah digendong itu. Karena
kesal tidak diberi, Fern menendang kaki Richie sehingga Richie berhenti dan
memandang Fern dengan tatapan ngeri. Fern pun menangis dan berlari untuk
berlindung di balik sang ibu yang tiba-tiba muncul di belakang. Alisa yang berusaha memohon dengan
amat pada akhirnya mendapatkan tamparan keras dari sang suami sampai terjatuh.
Hazel yang melihat hal itu seketika menangis dan berteriak kencang, memohon
untuk dilepaskan. Tangannya ingin meraih saudara kembarnya dan sang ibu.
Semenjak itu, ketakutan selalu
menyertai Hazel. Ia dibawa ke tempat yang asing. Sebuah bangunan tua dijadikan laboratorium untuk menjadi tempat berbagai macam percobaan. Pertama kali memasuki
gedung itu Hazel merasa mual mencium bau bahan kimia yang berbaur dengan udara.
Setelah di dalam, rasa yang dibencinya itu malah menyeruak, mual makin menjadi
karena ia melihat tubuh tergeletak di atas meja panjang seukuran manusia pas.
Tubuh itu jelas sekali sudah tidak bernyawa. Benar saja darah berceceran di
tubuh mayat itu, tampak organ tubuh sedikit mencuat ke luar, dan kulitnya
berwarna ungu-hijau—parahnya hitam. Wajah Hazel pucat, tak sanggup melihat
pemandangan menjijikkan itu.
Kini sehari-harinya yang ia lakukan hanyalah berteriak
menangis menangis dan terus menangis dalam ketakutan dan kesakitan. Ia manusia
yang tidak diperlakukan layaknya manusia, lebih tepatnya sebagai kelinci
percobaan. Tubuhnya diserang dengan berbagai suntikan-suntikan hasil percobaan dari cairan-cairan kimia yang berbau
tak sedap. Kadang menerima pukulan lemah kadang keras. Sungguh menyiksa. Berbulan bulan ia merima perlakuan
itu. Bersama ayah dan rekan-rekan yang semakin gila membuat Hazel menjadi
kehilangan kontrol diri. Seiring berjalannya waktu ia menjadi diam, pasrah, dengan
pandangan kosong ia hanya menurut apa yang dikatakan semua yang diperintahkan
padanya.
Hingga pada suatu hari, setelah berminggu-minggu lamanya, tubuh Hazel sudah mencapai batas menerima banyak zat kimia sehingga kulit yang putih
itu penuh warna biru dan ungu. Efeknya tak hanya pada kulit, rambut dan mata
pun lambat laun berubah menjadi violet. Betapa senangnya orang-orang gila di
sekitar Hazel. Hazel menyadari air matanya tumpah setelah sekian waktu lamanya. Beserta badan yang lemas ia mencoba keluar dari
bangunan yang merenggut semua hidupnya. Lari. Ya, ia harus lari. Meskipun itu
ayahnya sekalipun. Hazel pun keluar secara diam-diam. Ya, meskipun di luar
malam dan gelap. Meskipun saat ini
badannya gemetar. Takut.
Semakin menjauhi bangunan itu
semakin berat mata Hazel. Sudah berapa lama ia berjalan, yang diinginkan hanya menjauhi tempat
mengerikan tadi. Masih takut akan perlakuan itu, memikirkannya saja kepala
sudah sakit. Pandangannya kabur, tiba-tiba tubuhnya ambuk. Sebelumnya ia melihat 2 sosok orang
dewasa dan anak kecil berlari mendekatinya.
Oh Tuhan.. Aku hanya ingin bahagia
dan bertemu keluargaku kembali..
Siblings:
-
Fern Obert Hahn [saudara kembar | Perseus as Rider @Fate/Prototype]
- Alisa
Raviel Hahn [ibu kandung | Nanami Haruka @Utano Prince-sama]
- Richie Ian
Conrard [ayah kandung]
-Karl
Luduvico Keifer [sahabat | Arthur as Saber @Fate/Prototype]
-Maddalen
Reise Blodwyn [ibu angkat]
-Gary Bert
Blodwyn [ayah angkat]
-Viero Lumien Omelio [room-mate | Shinonono Houki @Infinite]
-Kevin Rouin Erth [ketua club panah | Ryunosuke Miyaji @StarrySky Summer]
-Rumina Eoshe Blodwyn [--- | Cecilia Alcott @Infinite]
-Anna Eldora Corda [--- | Watanabe Saki @Shin Sekai Youri]
-Melody Iorn Stanchore [ketua asrama lantai-4 | Alice @Pandora Hearts]
-Viero Lumien Omelio [room-mate | Shinonono Houki @Infinite]
-Kevin Rouin Erth [ketua club panah | Ryunosuke Miyaji @StarrySky Summer]
-Rumina Eoshe Blodwyn [--- | Cecilia Alcott @Infinite]
-Anna Eldora Corda [--- | Watanabe Saki @Shin Sekai Youri]
-Melody Iorn Stanchore [ketua asrama lantai-4 | Alice @Pandora Hearts]

No comments:
Post a Comment