“Kau tahu, kemarin aku menemani ayahku bertemu dengan
seseorang dari Prancis,” ujar seorang lelaki kepada seorang gadis kecil dengan
rambut coklat sebahu dan iris biru terang.
“Hm?” jawab si gadis surai coklat kurang antusias. Terang
saja, sudah lebih dari tiga hari lelaki berambut pirang ini bercerita
macam-macam tentang ayahnya yang akhir-akhir ini mendapat tamu penting dari
sana-sini.
“Ayolah, setidaknya dengarkan ceritaku, Fel,” balasnya
sambil mengguncang-guncang tubuh gadis surai coklat. Gadis Felicita yang tengah
memerhatikan Bunga Mawar yang baru kuncup itu merasa terusik, sontak memasang
wajah cemberut. Pipinya ia kembungkan, sembari mendengus kesal. Lelaki bernama
Nathan ini tidak akan diam jika dia tidak mendengarkan ceritanya terlebih dahulu.
“Baiklah,” ucap Felicita lantas sambil membalikkan tubuhnya
yang kemudian kini menghadap ke arah sumber suara rusuh barusan. “Apa yang mau
kau ceritakan, Nate?”
Nathan meringis, ah lebih tepatnya tersenyum lebar. Senyum
di antara rasa puas karena telah berhasil mengundang atensi Fel, dan senyum
karena kini ia bisa bercerita semaunya. Lalu dengan sekali gerakan, jari
telunjuknya kini telah berada di pipi kanan Felicita. Bersamaan dengan itu
jarinya mendorong pipi Felicita yang sedang kembung ini.
“Jelek sekali kau, haha. Jangan pasang wajah seperti itu.
Aku tahu kau memang tak bisa membuat lelucon, tapi demi apa pun jangan membuat
wajah seperti itu. Walau wajah itu cocok untukmu, haha,” ujar Nathan tergelak.
Felicita menajamkan pandangan matanya ke arah Nathan.
Seketika suasana berubah menjadi hening, hanya ada gelak tawa Nathan yang
sangat garing.
“Ha-ha-ha---haaa?”
Perlahan suara tertawa Nathan hilang ditelan angin yang kini
sedang bertiup kea rah mereka. Felicita masih menajamkan pandangan matanya ke
arah Nathan. Nathan yang tersadar akan pandangan Felicita langsung berhenti
tertawa dan bertingkah kebingungan.
“Ah, kau memang tidak pernah bisa menerima lelucon, Fel,”
ucap Nathan sambil meletakkan kedua tangan di pinggangnya. Bergeleng-geleng.
“Tapi, Tuan Nathan. Lelucon Anda kali ini agaknya membuat
Nona Felicita tidak nyaman. Anda tidak boleh melakukan hal semacam itu kepada
seorang gadis,” ucap seseorang dari belakang Nathan.
Nathan menengok. Yang baru berbicara itu adalah seorang
lelaki berambut hitam dengan pakaian hitam dan topi di kepalanya yang sedang
membawakan sebuah nampan.
“Saya membawakan Anda the, Tuan. Dan karena kita kedatangan
tamu, saya telah mempersiapkan teh Mallow Blue khusus untuk Nona Felicita,”
ucap lelaki itu sambil meletakkan satu set minum the di atas meja porselen
berwarna putih. Felicita senang bukan main. Dia langsung mendekati lelaki itu
dengan mata berbinar-binar.
“Teh Mallow Blue ini semula berwarna biru, namun lama-lama
warnanya akan berubah menjadi ungu,” ucap lelaki itu dengan terampil menuang
teh ke cangkir. “Lalu, setelah saya menambahkan jeruk, maka warna teh akan
berubah menjadi warna merah muda yang sangat indah,” tambah lelaki itu.
“Cantik sekali…” ucap Felicita sambil menatap cangkir
berwarna bening itu dengan berbinar. “Kau hebat seperti biasa, Luke. Bahkan kau
jauh lebih hebat dari Nathan.“
“Eh…??!” teriak Nathan sambil membelalakkan matanya ke arah
Felicita. Felicita tidak menggubrisnya. Dia kini sibuk menyesap teh Mallow
Blue. Menyesap teh adalah waktu yang berharga bagi seorang Felicita.
“Maaf, Nona Felicita. Tapi saya hanya seorang pelayan biasa.
Tuan muda-lah yang mengajari saya macam-macam,” ujar Luke sambil membungkukkan
badan dan mengerdip sebelah mata kepada Nathan. Nathan yang melihat hal itu
langsung tersenyum sangat lebar.
“Hei, kau dengar itu bukan, Fel?” ucap Nathan sambil
berlagak menyombongkan diri kepada Felicita. Namun lagi-lagi Felicita hanya
menyesap tehnya semakin dalam. Mallow Blue bahkan jauh lebih menarik ketimbang
memerhatikan perkataan Nathan.
“Hei, Fel. Dengarkan aku!”
Ah, pagi yang sangat ramai.
***
Itu delapan tahun yang lalu.
Felicita berjalan menyusuri halaman Grandfield-Alven yang
kini didominasi benda putih yang berulang jatuh dari langit. Seragamnya
tertutup oleh mantel putihnya, dan lehernya dilindungi oleh belitan syal
berwana merah jambu. Tangan kanannya tengah memegang payung yang awalnya
berwarna merah, namun kini menjadi warna merah bercak putih. Di tengah udara
dingin seperti ini, role macam apakah yang sedang dimainkan seorang Nona Chamberlain ini?
Menunggu.
Emm, tidak. Tepatnya berjaga-jaga.
Kemarin malam seusai mengurusi urusan klub berkuda yang
sedang mengalami beberapa masalah finansial, handphone-nya berulang kali
berdering. Sebuah nama jelas tertera di situ. Sangat familiar. Karena itulah,
di tengah salju menyebalkan ini, Felicita rela menunggunya datang. Bukan karena
ingin segera bertemu, tapi lebih ke aksi penjagaan.
“Felicita, apa yang kau lakukan di tengah salju begini?”
ucap seseorang dari arah samping kanannya.
Felicita menengok. Dua orang gadis pirang sedang berjalan,
sama sepertinya. Hanya saja mereka saling berbagi payung, tidak sepertinya yang
hanya sendirian. Gadis yang baru menyapanya adalah gadis tinggi dengan rambut
pendek. Dia adalah Cecille Spencer, seorang putri dari pemilik toko berlian
yang berada di bagian barat London. Di sampingnya adalah gadis pemalu dengan
rambut pirang panjang yang diikat ke bawah. Cynthia Cashiraghi, anak kedua dari
pemilik butik Cashiraghi yang merupakan butik terbesar di London. Felicita
melempar senyum ke arah mereka berdua, sambil melambaikan tangannya.
“Tidak. Aku hanya sedang… berkeliling sejenak. Kurasa tidak
ada salahnya menikmati pemandangan yang hanya terjadi beberapa bulan dalam
setahun.”
Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang melakukan penjagaan
ekstra terhadap area ini.
“Ah, begitu. Kau sangat mengagumkan. Kau pandai sekali
menemukan hal yang bisa membuatmu nyaman,” ucap Cecille sambil merapatkan
syal-nya yang tadi sempat turun beberapa senti.
Perkataan barusan. Itu pujian atau sindiran?
“Hati-hati, Nona Chamberlain. Kau bisa sakit jika
berlama-lama di luar pada cuaca seperti ini.”
Kini Cashiraghi yang berbicara. Felicita hanya mengangguk pelan, mengucapkan
kata yang terdengar seperti, “Kau juga” namun tertelan oleh suara angin yang
menderu. Kedua gadis barusan lewat setelah itu, meninggalkan Felicita yang
tengah berdiri di tengah salju dengan payung merahnya. Cuaca semakin dingin dan
orang yang sedang ia tunggu tidak kunjung terlihat. Felicita meraih pocket
watch-nya, dan jamnya menunjukkan waktu beberapa menit lebih awal dari waktu
kedatangan orang itu. Felicita menatap jam itu bimbang. Hatinya berkata, untuk
apa aku bersusah berdiri di tengah salju seperti ini hanya untuk menunggu orang
itu?


.jpg)

