Sore ini waktunya Hazel mengetahui kamar barunya di asrama putri Granfield-Alven. Setelah kedatangannya tadi pagi dan menemukan berbagai macam kenalan baru, kini saatnya ia beristirahat sejenak. Di sinilah dia sekarang, tengah berjalan didampingi seorang gadis bersurai cokelat panjang, dengan model kelabang kecil di tiap sisi kepalanya.
“Itu dia!” seru gadis di samping Hazel lantas menunjuk sebuah pintu berpoles putih tulang terpampang sejauh sekitar 5 meter dari tempat mereka.
Hazel hanya tersenyum heran menanggapi semangat yang keluar dari gadis di sampingnya itu. Tak lama mereka sampai di depan sebuah ruangan setelah melewati beberapa pintu bermodel sama, hanya saja dengan nomor yang berbeda.
“Oh iya, tadi kita belum sempat berkenalan. Siapa namamu? Aku Melody Stanchore. Panggil saja Melody. Kelas 3-A. Ketua asrama di lantai empat, gedung asrama putri Grandfield-Alven ini. Bertanggung jawab atas segala hal yang ada di lantai ini. Salam kenal…..Em..Gadis bersurai ungu? Kekekekeke~” ucapnya sambil menyerahkan tangan kanannya di depan Hazel.
Hazel menoleh ke arah siswi yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Melody. Tubuh Melody sedikit lebih kecil daripada Hazel, begitu juga tingginya. Mata Melody tampak ceria dari awal bertemu tadi sampai terakhir memperkenalkan dirinya, sangat terakhir –mengejek? Tapi Hazel sendiri tidak bisa melihat suatu ejekan, bahkan hinaan di dalam mata Melody.
“...Hazel Blodwyn. Panggil saja Hazel. Kelas 2-B. Salam kenal juga,” jawab Hazel sopan sembari menyambut hangat tangan kakak kelas di depannya. Tersenyum. Sekilas menampakkan sedikit kesedihan di matanya.
“Ah! Maafkan aku! Aku hanya bercanda tadi menyebutmu surai ungu. Jangan dianggap serius. Okay?”
“No problem, Melo--.”
“Melody!! Gawat! Baru saja aku dengar Viero berkelahi lagi dengan seorang siswa laki-laki!”
Belum selesai Hazel berkata, tiba-tiba terdengar suara keras dan panik dari arah lorong yang telah dilewatinya tadi. Mungkin asal suara itu dari ujung pintu utama menuju deretan pintu kamar di lorong tempat Hazel berdiri.
“Oh my God! Lagi? Yang benar saja. Dimana dia sekarang?” teriak Melody sedikit panik menjawab suara memanggilnya barusan.
“Di lapangan basket! Cepatlah!!”
“Eh? Eh? Ma-maaf ya Hazel. Aku rasa aku harus ke sana terlebih dahulu. Kamu tidak perlu ikut. Kamu istirahat saja. Baru sampai kan? Aku duluan ya! Kuncinya aku masukkan ke dalam kantongmu tadi. See ya!”
“.........Huh?”
Hazel hanya berdiam diri. Tangannya ingin meraih Melody, seakan tidak ingin ditinggal sendirian.
Berkelahi? Siapa tadi? Viero? Ragu. Sepertinya dia seorang siswi di asrama ini. Tapi kenapa seorang siswa ‘perempuan’ berkelahi? Hazel hanya menggeleng. Ia tak mampu berpikir jernih saat ini. Tubuhnya kecapekan akibat aktifitas padat hari ini. Ditambah udara di musim dingin ini yang membuat tubuhnya tidak terlalu fit.
“Sebaiknya aku masuk saja...” ucap Hazel resah.
Tangan Hazel menggerogohi kantong mantel cokelat yang sedang ia kenakan, mencari sesuatu untuk membuka pintu berangka 402 di depannya. Bunyi gemerincing terdengar samar dari balik kain cukup tebal di tubuhnya. Benar, terdapat kunci di dalam kantongnya. Tapi kapan Melody memasukkan kunci itu? Hebat sekali…
Segera Hazel mengeluarkan benda berwarna emas itu. Sejenak ia kemudian berdiam diri. Enggan melakukan perbuatan yang hendak ia kerjakan tadinya. Jemarinya menggenggam, lalu dengan mantap ia ketukkan pada pintu itu. Diam menunggu respon, tapi gagal. Sekali lagi ia ketuk, tidak ada respon lagi. Berfikir sesaat akhirnya ia menyerah juga. Dimasukkannya kunci dari Melody tadi. Memutar, kemudian membuka perlahan pintu yang cukup tinggi itu.
“Se-selamat sore…” ucapnya canggung.
Hening. Tidak ada jawaban. Hanya ada suara detik jam yang bergerak dari salah satu sudut ruangan.
Kini tampak jelas isi ruangan di hadapannya. Ruangan itu didominasi warna biru langit dan putih. Cantik. Selebihnya berbagai macam perabotan dan benda-benda menyesuaikan. Berbeda warna. Tapi tetap berkombinasi memadu menjadi satuan yang unity. Indahnya..
“Sepertinya tidak ada orang di dalam….”
Hazel masuk ke dalam ruangan yang cukup besar itu setelah mengambil kunci yang ia gunakan tadi. Ruangan itu memang berkapasitas dua orang. Namun di sana tidak ada satupun orang, hanya beberapa barang milik seseorang di sekitar tempat tidur bawah. Tidak lain seseorang itu menempati tempat tidur di lantai bawah. Sekitar satu meter di samping sebuah meja belajar kayu terdapat tangga putar menuju tempat tidur di atas. Sudah pasti di sanalah tempat yang sudah dipersiapkan untuk Hazel.
Setelah menggantungkan mantel luar dan melepas sepatu bot di tempatnya –di samping pintu, Hazel melangkahkan kakinya menuju tangga putar itu. Masih dengan koper merah tentunya, ditariknya secara perlahan. Dipegangnya ganggang kayu tangga putar itu, diperhatikannya, kombinasi cantik antara besi dan kayu. Kemudian ia pendekkan pegangan koper miliknya, bersiap mengangkatnya menuju lantai atas. Butuh usaha keras untuk melakukannya, yang jelas tidak secapek yang ia lakukan tadi pagi. Dari lantai bawah menuju lantai tempat kepala sekolah berada. Sungguh hari yang melelahkan.
Sampai di atas ia langsung merebahkan diri di atas tempat tidur barunya. Rasanya nyaman, ditambah bantal yang lembut menyentuh telinganya. Kelelahan. Pandangannya menelusuri sisi bagian langit-langit melengkung yang dibuat sedemikian rupa. Perlahan kantuk menyerang pelupuk matanya. Belum sempat ia memasuki alam mimpinya tiba-tiba terdengar suara ramai dari luar ruangan.
“Hm?”
Entah kenapa suara-suara itu memaksa Hazel untuk membuka mata. Masih lelah ia berusaha bangkit-duduk di atas tempat tidurnya. Pandangannya diarahkan menuju pintu kamar di bawah. Kelopak matanya masih belum terbuka sempurna saat ini.
BRAK!
Tiba-tiba seorang gadis bersurai hitam panjang masuk ke dalam ruangan dengan kasarnya. Sontak membuat Hazel kaget dan memaksa kelopak matanya terbuka lebih lebar. Hazel memperhatikan.
Gadis yang baru saja masuk itu mengenakan jaket tebal berlapis dengan syal hijau tua membalut lehernya. Sepatu bot-nya ia lepas dan meletakkannya dengan asal di samping sepatu bot Hazel. Berdiam diri sejenak memperhatikan bot milik Hazel. Lalu dengan santainya ia menoleh ke arah Hazel yang tengah memandangnya dengan tatapan heran. Tatapannya terhadap Hazel tampak tidak menyenangkan. Hazel hanya membalasnya dengan senyuman hangat, walau kantuk masih membayanginya. Diperhatikan lebih lanjut, terdapat luka di bagian tulang pipi gadis itu, terdapat pula memar di dagu sebelah kirinya.
“Hei Vie----“
BLAM
Melody yang tadi terlihat di luar, seketika menghilang, akibat pintu yang ditutup oleh gadis tadi. Gadis terluka itu mengunci pintu kemudian dengan sedikit terhuyung berjalan menuju tempat tidur di bawah Hazel. Segera Hazel bangkit dan bergegas menghampiri seseorang yang baru dilihatnya barusan. Setelah berada di bawah, Hazel berjalan perlahan mendekati gadis tadi.
Gadis itu tampak kelelahan, wajahnya pucat, dan terlihat sedang mengatur nafasnya sejenak dalam posisi berbaring. Tangan kanannya dengan sengaja menutup wajahnya. Kakinya masih menempel pada lantai.
“..Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Hazel khawatir dengan kondisi seseorang yang ditanyanya.
“….”
“A-aku Hazel… Hazel Blodwyn. Penghuni baru kamar ini…”
Mungkin sedikit sapaan dan perkenalan pertama dari Hazel akan membuat suasana sedikit lebih berubah. Hazel menatap dengan was-was ke arah gadis itu. Sepertinya siswi yang dimaksud tadi adalah gadis sekamarnya.
“Aku Viero Omelio. Ku mohon. Jangan ganggu aku,” ucap gadis bersurai cokelat itu sedikit berteriak.
“Ma-maaf...”
Sebenarnya Hazel sangat ingin mengenal lebih jauh teman sekamarnya ini. Tapi kelihatannya kenalan barunya ini saat ini tidak mau diganggu. Padahal tadinya Hanzel hendak membantu merawat luka yang tengah didapat gadis yang bernama Viero itu. Apa boleh buat, yang dilakukan Hazel sekarang hanya berjalan menuju tempat tidurnya. Beristirahat sebentar sampai jam makan malam datang.
