“Apa tidak apa-apa jika kau sendirian di sana?”
“Tidak apa-apa kok. Tak perlu khawatir,” ujar gadis beriris violet sambil
memperlihatkan senyum manisnya.
Panggilan penerbangan pun kembali berkumandang, membuat jantung si gadis berdegub
lebih cepat. Ia membuang nafas dengan pela, kemudian mulai berbicara lagi
sambil memperbaiki syal yang melingkari lehernya.
“Wohl, sepertinya aku harus
berangkat sekarang,” ujarnya dengan senyum yang sedikit ia paksakan. Kemudian
ia memeluk satu persatu seorang lelaki jangkung dan wanita berparas lembut di
depannya.
“Jangan lupa untuk menghubungi kami,” kata sang lelaki dengan suara pelan
tapi mantap.
“Jaga kesehatan ya, Violet,” kata wanita itu dianjutnya dengan mencium
kening seorang yang ia peluk.
“Baik ayah, ibu.”
“…”
“Karl, kau tidak mau mengucapkan sesuatu kepada Violet?” lanjut sang ibu sambil
mengembangkan senyum khasnya.
Pemuda yang ditanya hanya diam, pandangan yang tadinya kosong seketika
berubah hangat. “Ah, maafkan aku. Aku hanya..”
Kini panggilan terakhir penerbangan maskapai berkumandang.
“Ah gawat..,” panik Violet sambil meraih koper merah di sampingnya.
Tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepalanya dengan lembut.
“Aku akan merindukanmu,” ujar Karl dengan senyum dan suaranya yang lembut.
“….Aku juga,” senyum lembut Violet menyertai kata-kata itu.
“Sorgen,” lanjut Karl sambil
mengulurkan tangannya.
“Ja, danke. Fufufu,” jawab Violet
pasti dengan menyambut tangan hangat di depannya.
Raut muka pemuda bersurai pirang itu tampak sedikit bingung dengan jawaban
Violet. Ketika Violet mengakhiri aktifitasnya tadi ia merasa ada sesuatu yang
hilang. Ia hanya berharap semoga yang ia lakukan ini benar meskipun memberatkan
orang-rang yang dekat dengannya.
“Tschüs!”
Setelah mengucapkan kata-kata itu Violet bergegas menuju pesawat yang
tengah menunggunya. Belum sampai ia ke dalam, ia menoleh kembali ke balik
bahunya. Masih ingin melihat orang-orang tercintanya. Didapatnya pemandangan 2
orang dewasa melambai kepadanya, sedangkan pemuda yang sedikit diharapkannya
untuk merespon hanya tersenyum lembut.
“Danke,” gumamnya sambil
tersenyum manis sekali.
…
Pagi ini salju turun dengan lebat, sementara mentari yang biasanya
menyilaukan mata tampaknya terhalangi oleh awan. Terlihat di seberang jalan
menuju sebuah gedung sekolah seorang gadis berjalan tergesa-gesa dengan koper
di tangannya. Gadis itu mengenakan mantel cokelat dilengkapi dengan syal
rajutan buatan tangan yang memang hangat ketika dipakai. Saat ini ia hanya
ingin menikmati secangkir susu cokelat hangat buatan ibunya di rumah. Ia
membayangkan bercanda dengan teman dekatnya sambil merasakan kehangatan dari
api di perapian. Namun semua keinginan itu ia buang jauh-jauh sembari
menggeleng-gelengkan dengan kuat kepalanya.
“Meine Güte. Tenang saja Violet.
Di sini kau akan menemukan sesuatu yang selama ini kau cari.”
Bersama keinginan kuat akan sesuatu yang dicari itu, ia setengah berlari
dengan meggeret koper besarnya. Pita merah yang menghias sisi kiri kepalanya
pun menari dengan indah ditiup angin dingin. Sepatu boat yang ia kenakan
sedikit terhambat oleh salju-salju yang sudah menumpuk di terotoar. Langkah
ringan itu tengah melewati gerbang sekolah. Kini Violet berada tak jauh di depan
gedung sekolah itu. Berdiam diri mempersiapkan segala sesuatu hal yang akan
terjadi apapun nantinya itu.
Grandfield-Alven SHS
Itulah rantaian kata yang terukir di bangunan sekolah ini. Sekarang tempat
inilah dimana Violet akan tinggal.
“Phew.. Aku harus kuat,” gumamnya.
Perlahan dan pasti ia mulai menapaki anak tangga menuju teras depan gedung
sekolah. Setelah melewatinya ia membuka pintu kaca raksasa dengan mantap. Ketika
masuk, ia mendapatkan pemandangan yang mengherankan dirinya sendiri. Di hall
tempatnya berada tidak ada seorang pun yang seharusnya ada. Ia melirik jam
tangan mungil di pergelangan tangan kirinya.
“Pukul 7 pagi. Sekarang hari Kamis,
tanggal 26 Desember ya. Aku rasa aku kepagian kalau harus ke kelas sekarang.
Dimana ruang kepala sekolah ya?” ucapnya dalam hati.
------------------------------------------------------------------------------------------------
oRIena
So siapa yang bakal menyambut chara saya nih? :p
Notes:
wohl = well
sorgen = take care
ja = yes
danke = thank you
Tschüs! = Bye!
meine Güte = my God

Seperti biasa, Felicita terbangun pada pukul tujuh pagi, oke, lebih lima menit. Ia sedang berada di sebuah ruangan yang cukup lebar─karena kapasitas kamar ini untuk dua orang─dengan dominasi warna olive green. Sinar matahari menyeruak masuk lewat kaca jendela, menembus barikade tirai kamar kemudian mengenai iris matanya yang biru. Tubuhnya yang masih duduk santai di atas tempat tidur kemudian beranjak berdiri. Kaki jenjangnya menuntun sang gadis ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Jemarinya menggapai sebuah botol dengan sebuah cairan bening di dalamnya. Dengan gerakan memutar yang cepat, ia membuka tutup botol ini, dan mendekatkan mulut botol tepat di dekat hidungnya.
ReplyDelete- Hmm.. Hari ini adalah jasmine. -
Felicita Chamberlain. Enam Belas Tahun. Seorang Lady. Sekolah di Sekolah Biasa. Banyak orang bertanya-tanya mengapa gadis sepertinya memilih untuk bersekolah di sekolah sejenis Grandfield Alven. Di luar sana ada sebuah sekolah yang terletak di jantung kota London, dengan segala fasilitas mewah serta berisi anak-anak para Duke, Marquess, Viscount, Baron dan Earl─sepertinya. Namun, nyatanya seorang Felicita Chamberlain lebih memilih untuk bersekolah di tempat ini.
Kini tubuhnya tengah duduk di depan meja dengan sebuah cermin besar menempel di atasnya. Perlahan Felicita menyisir rambut coklatnya yang panjang, berhati-hati takut membuat rambutnya rontok barang sehelai. Rambut adalah perhiasan wanita yang berharga, bukan? Gadis itu masih merenung smebari memerhatikan refleksinya di cermin. Mungkin banyak orang berprasangka bahwa dirinya telah dibuang oleh keluarga Chamberlain. Atau mungkin prasangka lain, seperti anak gadis Chamberlain adalah gadis baik yang mau berbaur dengan rakyat biasa. Ha-ha. Lucu sekali memikirkan berbagai prasangka-prasangka orang mengenai dirinya. Masyarakat cerdas tentu tahu apa yang ia lakukan di tempat ini. Felicita tidak dibuang, dan bukan juga gadis yang terlampau baik. Dia di sini demi Ratu, dan kakaknya─Sebastian.
Rambutnya hari ini ia biarkan tergerai dengan beberapa bagian rambut yang sengaja ia letakkan di depan bahunya, serta yang lain dia biarkan tergerai di belakang bahunya. Ia masih ingat tahun pertama saat ia baru mengetahui jika harus tinggal di asrama sekolah ini tanpa pelayannya. Mungkin dengan berbagai negosiasi, Felicita masih bisa membawa pelayannya untuk melayani sepanjang dia di asrama. Namun, beberapa siswa membicarakannya dan menyebutnya sebagai gadis manja yang selalu diikuti pelayannya. Yang benar saja, Felicita paling benci direndahkan harga dirinya. Karenanya dia memutuskan supaya pelayannya tinggal di sebuah apartemen kecil di dekat sekolah. Berita baiknya, pelayannya tidak akan mengikutinya kemanapun lagi. Ya, setidaknya itu pilihan terbaik.
“Nona, saya membawa sarapan Anda.” Sebuah suara terdengar dari balik pintu kamarnya. Jelas sekali ini suara Hannah.
ReplyDelete“Masuk...”
Hannah membuka pintu dengan tenang. Di tangannya terdapat troli makanan. Hannah memasak sendiri makanannya di dapur asrama. Dia diperbolehkan memasak di dapur asrama karena selain memasakkan makanan untuk Felicita, dia juga sering membantu cafetaria dalam mempersiapkan makanan. Pelayan bersurai kemerahan itu lantas meletakkan nampan makanan dengan sebuah tutup makanan logam yang mengkilap di atas sebuah meja bundar kecil di dalam kamar.
“Hari ini saya membawakan Darjeeling Tea dengan Sandwich Udang Alpukat, nona,” ujarnya sambil membuka tutup makanan logam itu.
Felicita beringsut menghampiri Hannah─lebih tepat makanannya─dan melahap sandwich itu dengan beberapa kali gigitan. Setelah menyelesaikan sarapannya, Felicita beranjak pergi dari kamar. Membiarkan kamarnya tetap terbuka dan meninggalkan sisa urusan kamarnya pada pelayannya. Oke, rutinitas pagi selesai.
Kaki jenjangnya kini tengah menyusuri lorong asrama berlanjut hingga lorong sekolah. Derap langkahnya jauh dari kesan tergesa-gesa. Angin dingin sedikit-sedikit menggelitik tengkuknya. Felicita merapatkan kembali mantel putihnya, membetulkan syal-nya yang sedikit miring, dan merapikan topinya. Sebuah kurva merah jambu lalu melengkung di wajahnya, membuat wajahnya sedikit memerah karena ada kehangatan yang muncul di area wajahnya. Bukan apa-apa. Ini hanya rasa nyaman saja.
“Selamat Pagi, Kepala Sekolah,” sapa Felicita kepada sosok lelaki dewasa berambut keputihan di hadapannya. Lelaki itu tersenyum sumringah, lebih sumringah dari apa yang ia bayangkan. Terlalu sumringah malah.
“Kebetulan sekali Anda datang. Silahkan ikut ke ruangan saya,” ujar Kepala Sekolah sambil mempersilahkan Felicita untuk menuju ke ruangannya. “Saya ingin Anda memperkenalkan diri Anda kepada seorang siswi baru. Namun maaf jika saya lancang meminta, tapi apa boleh buat, Anda adalah Ketua Dewan Siswa di sini. Saya tidak punya pilihan.”
“Baiklah. Tidak apa-apa, Kepala Sekolah. Antarkan saya ke ruangan Anda,” jawab Felicita sambil tersenyum. Sebenarnya jawaban ini sangatlah berat. Dia tahu benar kalau si murid pindahan itu adalah orang biasa, bahkan lebih biasa dari orang-orang yang ada di sekolah biasa ini. Tidak ada untungnya dia mengenal murid itu. Tapi, karena dia adalah Ketua Dewan Siswa sekolah ini, lagi-lagi Felicita tidak punya banyak pilihan.
“Ah, di sini kau rupanya, Miss Blodwyn. Masuklah,” ujar Kepala Sekolah kepada seorang gadis bersyal yang tengah menganggur sendirian. Felicita hanya bisa melihat tubuh gadis itu sedikit karena tertutup oleh badan besar milik Kepala Sekolah. Walau setua ini Kepala Sekolah tetap tidak boleh membiarkan tubuhnya mengalami obesitas, bukan?
Kepala Sekolah lantas membuka pintu ruangannya. Felicita kini bisa melihat dengan jelas seorang gadis bengong tadi. Kulitnya putih, ralat, pucat mungkin lebih tepat. Rambutnya berwarna violet, begitu juga dengan irisnya. Violet. VIOLET?!? Demi apapun, Felicita seperti melihat sebuah relik Harajuku yang secara nyata telah hidup dan berjalan-jalan di kota London ini. Astaga, apa yang Kepala Sekolah ini pikirkan saat menerima murid pindahan seperti ini? Bisa saja dia adalah mantan anggota geng, atau keluarganya preman? Dari sekian warna mengapa harus memilih warna yang sangat tidak, ehem. Tidak perlu dilanjutkan. Felicita memaksakan senyum. Memaksa tapi tidak terlihat memaksa. Lihat. Ia bahkan bisa tersenyum sempurna di saat terpaksa seperti itu.
“Miss Blodwyn, kenalkan Ketua Dewan Siswa kami, Lady Felicita Chamberlain,” ucapnya sontak ketika mata mereka sama-sama saling menatap.
Felicita tersenyum anggun. Dia mengangkat tangan kanannya ke arah Kepala Sekolah, tetap tersenyum. “Chamberlain saja cukup, Kepala Sekolah.”
ReplyDelete“Ah iya, maaf Miss Chamberlain.”
Felicita mengalihkan pandangan ke gadis violet itu. Matanya violet, sama seperti rambutnya, bahkan kulitnya pun terlihat tidak cocok untuk paduan warna mata dan rambutnya. Seharusnya kulitnya berwarna ungu saja sekalian. Lalu, apa kata yang cocok untuknya? Kasihan? Mengerikan? Alien. Oke, mungkin yang terakhir. Satu kata yang cukup untuk mewakili gadis di hadapannya ini. Alien.
“Felicita Chamberlain. Senang bertemu denganmu, Blodwyn,” ujar Felicita sambil tersenyum manis kepada entitas di hadapannya dan mengulurkan tangannya. “Padahal aku sangat ingin mengajakmu berkeliling sekolah dulu, atau setidaknya kita minum teh bersama. Namun sepertinya sebentar lagi waktu kita untuk masuk kelas. Benar bukan, Kepala Sekolah?” tambahnya.
[i]Siapapun yang mendapat uluran tangan Chamberlain maka voila! Derajatmu akan naik, bahkan lebih tinggi dari derajat anak domba.[/i]
Jam kamar berdenting 7 kali. Seperti biasa, Annora bangun jam 7 pagi dan segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Segar. Tak sabar ia ingin segera bermain di taman, yang terletak di depan asramanya. Aiko Annora Luvena, hobi terbarunya sejak berada di GA yaitu bermain biola di taman sebelum kelas dimulai dan setelah kelas berakhir.
ReplyDeleteIa bercermin. Tersenyum melihat wajahnya yang imut. Perlahan ia menyisir rambutnya agar tidak rontok, karena akhir-akhir ini rambutnya sering rontok. Tak lupa ia memakai bando berwarna biru dengan hiasan kupu-kupu di sisi kanan. Manis. Manis sekali gadis mungil ini. Usai merapikan rambutnya, ia memakain mantel favoritnya yang berwarna violet dan syal dengan warna yang sama. Lalu ia melipat blazer sapphire blue, seragam sekolah, dan meletakkannya di dalam tas. Ia pun segera beringsut keluar kamar sambil membawa tas biolanya.
“Indah sekali pagi ini. Pagi yang cerah.”, ujarnya sambil membuka kotak biolanya.
Ia pun melantunkan lagu favoritnya, Marry Your Daughter, sambil memainkan biola. Indah sekali alunan musik dan suaranya.
Prok Prok Prok –suara tepuk tangan dari arah belakang.
“Bagus sekali Nona Annora”, ujar siswa itu sambil membungkukkan badannya.
Annora tersipu malu dan membalasnya dengan senyuman.
“Ehmmm kamu tau dari mana namaku Annora?”, tanyanya dengan hati-hati.
“Siapa sih yang tidak mengenal alunan musikmu yang indah?”, jawab siswa itu sambil duduk di samping Annora.
“Hah? Oh terima kasih”, jawab Annora malu-malu dengan senyuman khasnya yang sangat manis.
“Maaf, namamu siapa? Maaf, aku tidak terlalu mengenal siswa laki-laki selain yang sekelas denganku.”, ucap Annora sambil menunduk malu.
“Oke. Perkenalkan, namaku Oscar William. Panggil saja William. Aku juga tingkat 2 loh”, ujarnya sambil menatap Annora.
“Oh ok. Hai William”, kata Annora sambil tersenyum manis.
Annora pun kembali memainkan biola sambil menyanyikan lagu Unbelieveble.
Tak terasa sudah hampir 1 jam mereka berada di taman ini.
“Annora… sudah jam 8.45. Jadwal hari ini kelasmu di lantai 3 kan?”, suara William mengangetkan Annora.
“Hah? Iya!! Haduh…. Aku lupa.. Aduh lantai 4 pula.. Yah..”, jawab Annora dengan panic dan diakhiri dengan nada lesu.
“Yuk aku temenin. Aku juga di lantai 4 kok.”, ajak William sambil mengambil kotak biola Annora.
Annora terbengong. *baru kali ini ada teman laki-laki yang baik padaku. Semoga dia benar-benar anak yang baik.*
“Heh kok kamu bengong? Ayo”, ajaknya yang membuyarkan lamunan Annora sambil memegang tangan Annora.
“Hah.. Eh iya iya”, jawab Annora sambil melepaskan tangannya dan meletakkan biola di tas biolanya.
Mereka pun berlarian menuju gedung sekolah sambil tertawa-tawa. Sungguh pagi yang indah bagi Annora. Dan ini merupakan sejarah baru dalam hidupnya. Asik berbincang-bincang sambil tertawa kecil, tiba-tiba Annora menabrak sesuatu.
“AAAAWWW!!!!!!!!!”, teriak gadis cantik berambut coklat.
Mereka berdua terjatuh. William segera membantu Annora untuk berdiri, namun tidak ada satu pun yang membantu gadis bertubuh semampai itu berdiri. Pun dengan gadis bermata violet yang berada di dekatnya.
“Maaf… Maaf fel… Aku tidak sengaja dan aku tidak melihatmu tadi.”, ujar Annora terbata dan takut.
“Paling tidak kau harus perhatikan langkahmu, Louis. Kau bisa melukai orang dengan tindakanmu barusan.”, jawab Felicita beringsut pergi sambil merapikan rambutnya.
Lagi-lagi Annora bengong. Ada apa dengan hari ini, ia sungguh bingung. Terlalu indah dan sangat mengagetkan semua ini.
“Ayo Annora. Ayo… Nanti kita terlambat.”, ucap William.
“Oke oke…”, jawab Annora sambil menyusul William.
Dan ia menatap gadis bermata violet itu. Gadis yang unik, gumam Annora. Ia pun memberikan senyum termanisnya pada gadis bermata violet itu dan mengejar William.
Langkah berat terdengar menggema di setiap sisi ruangan hall itu. Terlihat Violet dengan susah payah menaiki satu persatu anak tangga yang seharusnya mengantarkan ke ruangan kepala sekolah, dengan mengangkat koper tentunya. Setelah beberapa menit yang lalu ia mondar-mandir di lantai bawah dan ternyata tidak ada ruangan yang dicari, ia memutuskan menuju lantai atas.
ReplyDelete“Semoga ruangan kepala sekolah tidak di lantai paling atas.. Hosh-hosh,” harap gadis berpita merah yang saat ini sedang terengah-engah.
Butuh tenaga yang besar untuk membawa koper besar ini ke lantai dua. Tentu saja dengan semangat dan tekad yang kuat akhirnya Violet berhasil dengan sempurna di lantai dua. Bagaimana tidak? Setelah melampaui perjalanan dari Berlin dan tiba di kota asing seperti ini ia malah dihadapkan pada rintangan menaiki tangga. Dan hal itu disambut hangat olehnya.
Untuk bertemu seseorang yang baru, Violet tengah mempersiapkan diri. Setelah mengatur nafas sejenak dan detak jantung kembali normal, ia bergegas menarik ganggang pegangan koper hingga memanjang, kemudian membiarkan tangannya menggeret paksa si koper. Berjalan perlahan dan ragu-ragu. Bola matanya bermain ke sana kemari mencari tanda-tanda akan ruangan kepala sekolah.
“Ah itu dia!” seru Violet senang.
Tak jauh dari tempatnya berdiri akhirnya ia temukan ruang kepala sekolah. Seperti mendapatkan hadiah ulang tahun rasanya, ia sedikit tergesa menapaki lorong di depannya. Hampir saja ia terjatuh karna sepatu bootnya yang sedikit licin karna bekas salju yang mencair tadi.
“Fufufu~ Hampir saja.”
Inilah dia ruangan yang ia cari dari tadi. Tak sabar ia kemudian menghembuskan nafas panjang, kemudian mengetuk pintu kepala sekolah dengan tatapan senang. Tak ada jawaban. Kembali ia mengetuk. Tak ada jawaban lagi. Sedikit kecewa tampak di wajahnya.
“Mungkin kepala sekolah masih belum datang. Akan aku tunggu,” katanya sedikit kecewa.
Ketika Violet sedang memperbaiki posisi kopernya, ia mendengar ada suara kaki yang mendekat. Tiba-tiba saja ada yang memanggil dengan suara berat akan tetapi ramah. Refleks Violet menengok ke balik bahunya.
- “Ah, di sini kau rupanya, Miss Blodwyn. Masuklah,”-
“Ba-baik,” jawab Violet dengan sedikit gugup. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Secepatnya ia coba mengambil koper dan mengekor kepala sekolah menuju ruangan yang baru saja dibuka. Terkejut. Ternyata ada seorang gadis di belakang Kepala Sekolah tadi. Violet tersenyum kepada gadis itu sembari tetap mengangkat koper dan masuk ke dalam ruangan bergaya tua. Dilihat dari sisi manapun ruangan ini hangat dan nyaman. Tak sampai Violet memperhatikan isi ruangan itu, Kepala Sekolah kembali berbicara.
-“Miss Blodwyn, kenalkan Ketua Dewan Siswa kami, Lady Felicita Chamberlain,”-
Seketika Violet menoleh ke arah Kepala Sekolah kemudian dilanjutkan ke arah gadis tak jauh di dekatnya. Mata mereka bertemu. Sadar akan kata-kata Kepala Sekolah barusan, ia merasa aneh karnanya. Ia masih memandang gadis yang kelihatannya sedikit lebih tinggi darinya. Gaya pakaian yang tampak sedikit berbeda. Iris biru. Surai cokelat. Pandangannya berubah sedih jika mengamati orang sedemikian rupa. Violet langsung menghentikan kegiatannya barusan. Ia langsung menggantinya dengan senyuman hangat yang selalu dimilikinya.
Senyum anggun yang tiba-tiba diperlihatkan oleh nona Ketua Dewan Siswa itu membuat Violet tetap mempertahankan senyum khas miliknya.
ReplyDelete-“Chamberlain saja cukup, Kepala Sekolah.”-
-“Ah iya, maaf Miss Chamberlain.”-
Percakapan itu membuat Violet mengingat kembali akan nama yang disebutkan oleh Kepala Sekolah tadi. Lady Felicita Chamberlain. Lady? Apa mungkin dia seorang anak bangsawan? Jika benar. Tidak heran jika Kepala Sekolah pun menghormatinya. Seberkas senyum yang dilontarkan Violet tadi buyar karna ia berpikir akan hal itu. Tak kalah dari itu, pikiran yang dibangunnya pun ikut buyar ketika sebuah tangan diulurkan tepat di depannya.
-“Felicita Chamberlain. Senang bertemu denganmu, Blodwyn,”-
Sebuah bau harum menyerbak ketika Violet menggapai tangan di depannya. Ia tersenyum hangat, kemudian membalas, “Terima kasih. Hazel Vio.. Hazel Blodwyn. Panggil saja Hazel.” Balasnya, enggan menyebut nama tengahnya. Mungkin dia akan ditertawakan karna nama tengahnya yang senada dengan mata maupun surainya. Sebenarnya dia suka dipanggil dengan nama itu. Tapi untuk saat ini sepertinya ia belum siap jika hinaan akan datang dengan cepat. “Senang berkenalan denganmu juga.. Mmm.. Miss..?” lanjut Violet sedikit bingung harus memanggil gadis yang masih memandangnya dengan sebutan apa.
-“Padahal aku sangat ingin mengajakmu berkeliling sekolah dulu, atau setidaknya kita minum teh bersama. Namun sepertinya sebentar lagi waktu kita untuk masuk kelas. Benar bukan, Kepala Sekolah?”.-
Kepala Sekolah hanya mengangguk dengan penuh semangat ketika menjawab pertanyaan Miss Chamberlain di depan Violet itu. Jelas saja Violet dengan lembut melepas tangan halus yang membuatnya hangat tadi.
Tak disangka dia sudah memiliki seorang teman. Bukan, mungkin hanya sekedar kenalan. Violet dengan sedikit murung berjalan menuju keluar ruangan ini. Entah kapan ia akan memiliki teman di sini. Meski ia tahu nanti yang akan didapat adalah cemooh-an dan nantinya akan mengantarkan dia kepada kesendirian. Tidak apa-apa. Untuk sekarang yang ia harapkan rencana, rencana bagaimana menemukan seseorang itu.
Ketika baru saja berada di luar, Miss Chamberlain tadi tengah berjalan menyusul Violet di belakang. Violet pun berhenti menunggu sembari mengembangkan senyumnya ke arah nona itu. Tiba-tiba saja ada dua orang berlarian di lorong mendekati mereka berdua dengan cepat.
“Awas!” teriak Violet kepada si nona.
-“AAAAWWW!!!!!!!!!”-
Violet terkejut melihatnya. Dua gadis terjatuh akibat satu darinya berlari-larian di tempat sempit seperti ini. Seperti anak kecil saja. Jelas saja, gadis yang menabrak tadi bertubuh mungil. Sedangkan nona ini lebih tinggi darinya. Violet sedikit terheran kenapa nona ini sampai terjatuh juga. Belum sempat ia mengulurkan tangan nona yang sedikit menderita ini sudah berdiri tegak.
- “Maaf… Maaf fel… Aku tidak sengaja dan aku tidak melihatmu tadi.”-
- “Paling tidak kau harus perhatikan langkahmu, Louis. Kau bisa melukai orang dengan tindakanmu barusan.”-
Percakapan itu membuat Violet sedikit bingung. Tampak di mata gadis mungil itu terdapat sedikit rasa takut. Violet sama sekali tak mengerti. Apa karna seorang bangsawan nona Ketua Dewan Siswa ini harus ditakuti?
Gadis mungil bersurai putih, bersama kekasihnya mungkin, tiba-tiba saja melewati Violet. Sebelumnya gadis itu tanpa ragu tersenyum manis ke arah Violet. Ia hanya bisa diam untuk menanggapi. Tersadar, Violet kemudian berjalan ke arah nona yang tadi tengah bersamanya. Tentu saja masih setia dengan koper merahnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Violet kepada nona di sampingnya setelah berhasil menyusul dengan sedikit menguras tenaga.
Dapat diprediksikan, gadis ungu menyambut tangan Felicita dengan sumringah. Nah, sekarang sang gadis ungu resmi telah sedikit naik derajat. Seharusnya si gadis ungu berterimakasih padanya setelah ini. Tidak sembarang orang bia menyentuh kulitnya, tahu?
ReplyDelete-“Terima kasih. Hazel Vio.. Hazel Blodwyn. Panggil saja Hazel.”-
Ada sedikit kata yang barusan ingin gadis ungu itu ucapkan, tapi urung dia keluarkan. Vio? Viodo? Viodido? Violet? Vodoo? Viola? Violin? Apapun itu, Felicita tidak peduli. Gadis Chamberlain ini sejujurnya sudah ingin segera meninggalkan ruang Kepala Sekolah ini. Disamping ruang Kepala Sekolah yang terlalu kuno, ruangan ini juga tidak begitu nyaman ditambah dengan eksistensi seorang gadis dengan penampilan yang tidak bisa dikatakan normal itu. Lihat saja ruangan ini. Dindingnya berwarna coklat suram, dengan sebuah kepala rusa tertempel di tengah ruangan tepat di belakang kursi Kepala Sekolah duduk. Selera lampunya juga mengerikan, dimana lampunya terlalu banyak hiasan menjuntai yang mengurangi keindahan lampu yang sebenarnya.
“Felicita Chamberlain, Blodwyn. Kau bisa memanggilku dengan...” ujarnya sambil menimbang-nimbang pemikiran dengan meletakkan telunjuk tangan kanannya di dagunya. “Felicita, jika kau tidak keberatan. Atau Chamberlain jika kau terlalu sungkan untuk menyebut nama pertamaku.”
Demi apa pun, kenapa dia harus repot-repot mengulang namanya untuk pertanyaan bodoh dari si gadis ungu Blodwyn. Apakah selain rambut dengan warna ungu bak preman, dan mata dengan selera warna yang aneh, gadis ini pun memiliki daya pendengaran yang kurang memadai? Tidak mampu berfikir cepat, eh? Ah, apapun itu Kepala Sekolah seharusnya menyesali perbuatannya kelak karena telah mengizinkan gadis semacam ini untuk masuk ke sekolah yang setengah elit ini. Lalu urusan Felicita mengajaknya minum teh, ayolah, itu bukan ajakan sungguh-sungguh. Apa biasa orang-orang menyebutnya? Basa-basi, kan?
Gadis itu mengajaknya keluar, meninggalkan Kepala Sekolah yang sedari tadi obral senyum. Lagi-lagi sebuah tindakan super negatif dari gadis ungu. Melangkahi langkahnya terlebih dahulu. Menyebalkan. Felicita mengikutinya dari belakang. Dengan sekali dorong, ia membuka pintu ke arah luar dengan meninggalkan bunyi berderit seperti tikus mencicit. Ah, bukankah Kepala Sekolah harus memikirkan banyak perabotan yang mesti dia perbaiki. Dengarkan saja bunyi berderit ini. Kamar mandi pelayan di rumahnya pun masih jauh lebih baik.
ReplyDeleteBelum sempat Felicita menyelesaikan umpatan dalam hatinya. Belum sempat Felicita membandingkan keadaan kamar mandi pelayannya dengan kantor Kepala Sekolah ini, tiba-tiba ada sesosok gadis yang dengan enaknya menabrak tubuh jenjang Felicita. Felicita kaget bukan main, tapi tentu kekagetannya tidak akan diekspresikan melalui teriakan bak fangirl boyband apalagi dengan makian a-la preman. Kau sedang membaca seorang Felicita Chamberlain, tahu. Tidak mungkin baginya melakukan hal memalukan yang mengundang atensi. Dirinya kini jatuh, bahkan tubuhnya yang bisa dibilang jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan eksistensi gadis kecil bersurai putih ini. Tapi dia jatuh saudara-saudara, dan untungnya tidak dengan posisi yang menggelikan.
-“Maaf… Maaf fel… Aku tidak sengaja dan aku tidak melihatmu tadi.”-
Yang Felicita tahu mengucapkan kata maaf jauh lebih sulit dari mengucap kata lapar, apalagi kata umpatan. Namun gadis kecil di hadapannya dengan mudah minta maaf, dengan mudah berlalu, dan dengan mudah mengucap namanya dengan sebutan yang terlampau akrab. Fel. Seumur hidup hanya gadis di hadapannya ini satu-satunya commoner yang dengan entengnya mengucap nama akrabnya.
“Paling tidak kau harus memperhatikan langkahmu, Louis. Kau bisa melukai seseorang dengan tindakanmu barusan,”
Melukai harga diri seorang Felicita Chamberlain
Lalu, lelaki yang sedang bersama dengan gadis itu, ah tak usah dideskripsikan. Terlalu biasa untuk dideskripsikan. Felicita tidak tertarik. Semakin sebal rasanya jika lelaki-yang-tidak-menarik itu membiarkannya terjatuh, tidak menaruh sedikit iba kepada gadis bersurai putih yang telah menabraknya dengan cara ikut meminta maaf ar\tau setidaknya memperlihatkan rasa takut pada Felicita. Seorang gadis biasa menabrak gadis dengan kekuasaan tertinggi di sekolah, dan dengan kedudukan tertinggi di sekolah. Lelaki itu memilih bereaksi seakan tidak terjadi apa-apa. Bereaksi jika yang ditabrak si gadis hanyalah seekor kucing biasa. Namun, untungnya Felicita tidak butuh iba dan simpatik dari seorang anak domba. Catat.
-“Kau tidak apa-apa?”-
Gadis Violet kembali menghampirinya. Ha, keadaannya sungguh menyedihkan hari ini. Ditinggalkan di belakang dan dibiarkan terjatuh. Seumur hidup, Felicita percaya bahwa Dewi Fortuna selalu menaunginya, bahkan Felicita yakin bahwa Dewi Fortuna bahkan tergila-gila padanya jika Felicita seorang lelaki. Namun agaknya hari ini Dewi Fortuna tengah pergi berlibur dengan kekasihnya, sama dengan Gadis Louis yang lantas kabur dengan kekasihnya (mungkin), si lelaki-tidak-menarik itu.
“Aku baik-baik saja. Sedikit senggolan tidak akan menyakitiku bahkan se-inci pun,” ucapnya sambil membereskan roknya yang sedikit kusut. “Jadi, ku antar kau ke Ruang Dewan Siswa. Letaknya berdekatan dengan kelas kita kali ini. Setidaknya kita akan menghemat waktu.”
Ya, supaya Felicita tidak perlu berlama-lama dengan gadis ungu aneh ini.
“Kau sekelas denganku, bukan? Kepala Sekolah bicara begitu padaku sebelum ini.”
Sedetik. Dua detik. Violet menunggu jawaban dari nona Dewan Siswa di hadapannya. Jantungnya berdebar. Keringat hangat keluar dari pori-pori kulit putihnya. Kedua alis dikerutkan. Khawatir seseorang ini terluka akibat tubrukan dari siswa bertubuh kecil yang kurang berhati-hati tadi. Matanya mengamati--menyelidik mencari luka, kalau-kalau ada lecet akibat goresan atau memar karna tumbukan dari lantai dingin efek cuaca musim ini. Violet hanya menemukan beberapa lipatan tak teratur pada pakaian nona di depannya.
ReplyDelete--“Aku baik-baik saja. Sedikit senggolan tidak akan menyakitiku bahkan se-inci pun,”—
Wajah Violet seketika berubah, digantikan seraut senyum hangat, pertanda kelegaan yang tiba-tiba menguasai isi hatinya. “Syukurlah…” ujarnya dengan suara rendah.
--“Jadi, ku antar kau ke Ruang Dewan Mahasiswa. Letaknya berdekatan dengan kelas kita kali ini. Setidaknya kita akan menghemat waktu.”—
“Baik. Terima kasih.” ucap Violet sedikit ceria.
--“Kau sekelas denganku, bukan? Kepala Sekolah bicara begitu padaku sebelum ini.”—
“Benarkah? Aku tidak tahu,” jawab Violet sembari menggosok-gosokkan telunjuk di pipinya yang halus. “Aku akan mengikutimu. Senang rasanya jika aku benar-benar sekelas denganmu.”
--“Felicita Chamberlain, Blodwyn. Kau bisa memanggilku dengan...”—
ReplyDelete-- “Felicita, jika kau tidak keberatan. Atau Chamberlain jika kau terlalu sungkan untuk menyebut nama pertamaku.”--
“….” Bola mata Violet tak bergerak. Melamun. Entah kenapa tiba-tiba Violet memikirkan kata-kata anggun dari nona bangsawan yang baru saja ia kenal. Padahal ia sudah memperkenalkan diri dan menyarankan dipanggil dengan nama Hazel saja, tapi tetap saja nona manis yang tengah di samping, tadi memanggilnya dengan Blodwyn—nama belakang Violet. Dan sekarang ia mulai ragu-ragu untuk memanggil dengan nama Felicita saja. Lihat saja, dari tadi Violet tidak pernah memanggil nama nona itu, nama belakangnya sekalipun. Takutkah? Mungkin. Takut jika kesan orang lain pada dirinya akan buruk jika salah kata. Meski mungkin orang lain yang akan takut jika mereka tahu ia adalah hasil dari percobaan -tak termaafkan- berpuluh-puluh kali yang sampai saat ini mendapatkan efek negatif, bukan tapi terburuk—sangat buruk. Jelas saja saat ini Violet tidak ingin menggali pemikiran kenangan mengerikan itu lagi.
“Kenapa hal sekecil itu aku pikirkan? Ah! Itu bukan hal kecil. Itu adalah --dimana aku bisa lebih akrab dengan orang-orang baru di sekelilingku.. Tapi, tapi tidak untuk saat ini. Aku rasa aku akan memanggilnya dengan Chamberlain.” rontanya dalam hati.
Bukan karena Felicita A. Chamberlain seorang Ketua Dewan Siswa. Bukan pula karena nona itu seorang putri bangsawan yang tersohor --mungkin di seluruh penjuru kota. Justru Violet mengesampingkan hal itu. Lihat saja,sikap baik nona Chamberlain terhadap Violet. Padahal tadinya Violet tidak percaya diri dengan penampilannya yang sedemikian rupa. Ternyata seorang bangsawan ini bersikap ramah terhadapnya. Di samping itu, mungkin karena dirasa kurang sopan jika harus menyebutkan nama depan ketika belum terlalu akrab, jadi nona Chamberlain itu memanggilnya dengan sebutan Blodwyn. Terlebih lagi mereka baru saja berkenalan. Mungkin itu cara masyarakat London menghormati orang yang baru saja dikenal. Violet harus menghormatinya juga.
London ya. Tiba-tiba Violet ingat akan tujuannya bersekolah di sini. Tiba-tiba pula udara dingin menerpa tubuhnya, padahal ia sudah mengenakan pakaian berlapis tapi tetap saja.
Sendirian.
Rasanya ia ingin sekali menggenggap erat tangan seseorang yang selama ini menemaninya. Ia berharap saat ini juga orang itu berada di sampingnya. Menenangkan jika ia ingin menangis karena takut sendirian. Menghibur dikala orang-orang membuang kata-kata buruk terhadapnya. Karl..
Pandangannya menjauh, iris ungunya perlahan berubah gelap. Senyum yang daritadi dipertahankan, seketika melebur terbawa waktu. Wajahnya tampak linglung. Ragu-ragu, hendak menanyakan suatu hal pada Chamberlain di sampingnya.
“Hey, Chamberlain…. Apa…kau tahu seorang siswa yang bernama.. Fern..”
“….Fern-Obert—Hahn?” tanyanya terputus-putus tanpa menoleh, bahkan tanpa melirik nona yang ditanyanya itu. Rasanya semakin dalam berjalan di alam pikirannya, semakin menjauh dari keadaan sekitarnya.
Gadis berpita merah hanya berharap, keberadaannya di kota asing saat ini tidak sia-sia.
Annora terus berlari kecil hingga ia tiba di kelasnya. Ia memandang seisi kelas. Ramai seperti biasanya.
ReplyDelete“Ah aku lupa menaruh tas violaku ini”, desahnya dalam hati.
Viola adalah alat musik yang selalu menemani hari-harinya dalam sepi. Berkat kemahirannya dalam memainkan viola, ia menjadi gadis yang terkenal di Granfield Alven.
Dan ia pun melangkahkan kakinya dengan gontai menuju tempat duduknya yang berada di barisan nomor tiga dari depan, kolom kedua dari pojok pintu.
Semenjak ia bergabung dengan club music di sekolah ini, ia menjadi gadis yang terkenal. Kehidupannya saat ini berubah 180 derajat dibandingkan pada saat ia masih di Junior High School.
“Annora, apakah nanti seusai pelajaran terakhir kita ada latihan lagi?”, tanya Eleanor, salah satu teman sekelasnya yang juga ikut dalam club music. Eleanor memiliki suara yang sangat bagus.
“Iya Eleanor, nanti ada latihan. Dan kita akan dilatih oleh senior kita kelas 3”, jawab Annora dengan senyum khasnya.
“Wah pasti akan menjadi latihan yang sangat menyenangkan”, ucap Cleonima yang juga anggota club music dan sangat pandai dalam memainkan alat music violin 1. Dalam orchestra, biola ada 3 macam yaitu violin 1, violin 2, dan viola.
Tiba-tiba ia teringat kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu.
“Hey, apakah kalian tahu tentang murid baru di sekolah ini yang memiliki rambut berwarna ungu?”, tanya Annora tiba-tiba.
Eleanor dan Cleonima saling memandang satu sama lain. Menggeleng.
“Kalau begitu, gadis tadi benar-benar baru masuk di sekolah ini. Lagipula, tadi aku melihatnya membawa koper. Mungkin saja ia pun belum mendapat kamar di tempat ini.” , tambahnya.
Mereka bertiga saling berpandangan.
“Sepertinya gadis itu pergaulannya sudah sangat jauh”, celetuk Cleonima.
“Apa maksudmu?”, spontanitas Annora bertanya.
“Karena rambutnya berwarna ungu. Aku yakin, itu bukan rambut aslinya dan kemungkinan ia telah mewarnai rambutnya. Kau bisa lihat kan? Di sekolah ini mana ada yang berani mewarnai rambut mereka. Bisa-bisa dikeluarkan oleh Kepala Sekolah”, jawab Cleonima panjang lebar.
Mereka terdiam. Annora pun menunduk.
Mungkinkah ia gadis yang seperti itu. Padahal aku ingin mengenalnya lebih jauh. Kelihatanya dia gadis yang baik, keluh Annora dalam hati.
“Ya sudahlah, berdoa saja gadis itu sekelas dengan kita sehingga kita bisa mengenalnya lebih jauh. Aku yakin dia gadis yang baik karena Kepala Sekolah tidak mungkin menerima murid sembarangan”, ucap Annora sambil tersenyum manis sambil merapikan rambutnya di sisi kanan.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Ah, sebaiknya aku mengembalikan tas biola ku ini ke kamar. Kurasa, pak guru akan dating telat.~ ucapnya dalam hati.
Ia pun berdiri dan bergegas pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 3.
“Annora, ingin pergi kemana kamu?”, tanya Eleanor.
“Ah, aku ingin mengembalikan tas biolaku. Ingin ku letakkan di kamar.”, jawabnya lalu pergi.
Ia pun berlari kecil menuju ruangan kamarnya. Setelah menempuh beberapa langkah, di lorong tersebut ia bertemu dengan Felicita dan gadis berambut ungu.
“Hey Fel, apakah sepulang sekolah kamu ada acara? Aku ingin berbicara sebentar mengenai acara yang akan diadakan oleh club music. Sebagai sekretaris, aku ingin menyampaikan proposal kegiatan acara yang akan kami adakan. Bagaimana? Apa kamu bisa?”, ujarnya sambil tersenyum pada gadis bersurai ungu.
Aku pun memperhatikan gadis itu. Tubuhnya lebih tinggi dari diriku. Ya, aku mungkin memang gadis termungil di sekolah ini.
Aku berharap acara ini akan menjadi acara yang sangat spektakuler.
-“Syukurlah..”-
ReplyDeleteGadis Blodwyn itu tersenyum lega memandangi Felicita yang tengah merapikan roknya yang sedikit kusut. Felicita gantian memandangi gadis ungu Blodwyn dan membalasnya dengan senyumannya yang seperti biasa. Baiklah, gadis ungu ini mungkin aneh, namun dia cukup polos untuk tersenyum seperti itu kepada Felicita. Mungkin Felicita akan sedikit bersikap lebih ringan kepada gadis ungu ini. Toh, menurutnya gadis ini tidak akan merepotkan, dan toh gadis ini tidak perlu ia beri perhatian lebih karena yeah. Blodwyn adalah gadis biasa.
-“Hey, Chamberlain…. Apa…kau tahu seorang siswa yang bernama.. Fern..”-
Gadis ungu itu tiba-tiba berkata terbata-bata. Felicita menengok ke arah gadis ungu sembari menekuk kedua tangannya di depan dadanya. Kenapa ia mulai terbata-bata? Apakah cukup sulit bagi si gadis ungu untuk sekadar mengucap kata Chamberlain? Iris birunya menilai pandangan bingung si gadis ungu, berusaha menimbang-nimbang apa yang gadis ungu itu tengah pikirkan.
Fern? Apakah yang ia maksud adalah O. Hahn? Apa hubungan si gadis ungu dengan lelaki yang hobi bergadai dengan para wanita itu? Ataukah jangan-jangan gadis ungu ini salah satu korban dari lelaki bersurai merah itu di masa lalu? Ah, namun rasanya dunia ini begitu sempit jika hal itu benar adanya. Rasanya pesona seorang Fern O. Hahn bisa menaklukan semua wanita yang ada pelosok dunia (kecuali dirinya, tentunya).
Felicita masih melipat kedua tangannya di depan dadanya, masih belum menjawab pertanyaan si gadis ungu. Si gadis ungu agaknya tak sabar menunggu Felicita, kemudian dia menambahkan nama lengkap lelaki surai merah itu. [i] Ah, jadi benar Fern tukang gadai wanita itu… [/i]
“Hm, ya aku tahu,” sahut Felicita sambil memiringkan kepalanya beberapa derajat ke arah kanan. Rambut coklatnya kini tersibak ke arah kanan juga, mengikuti alur gerakan kepalanya. “Dia…. Lelaki yang cukup terkenal,”tambahnya.
Felicita menunggu reaksi tak terduga dari gadis ungu, tapi ah untuk mengapa dia mengharap rekasi tak terduga dari gadis ungu itu? Jawabannya cukup sederhana, bahkan tidak bisa disebut jawaban memuaskan. Dari mata gadis ungu itu agaknya dia menginginkan jawaban yang lebih dapat mengisi hasrat keingintahuan akan lelaki itu. Ah, tapi Felicita sungguh tidak ingin berbicara banyak. Perasaannya sedang tidak bahagia hari ini, ditambah karena insiden tabrakan tadi. Menyaksikan seorang Felicita Chamberlain tidak digubris oleh orang lain membuat harga dirinya serasa direndahkan. Ah, bagaimana Sebastian bisa senang jika mengetahui hal ini? Yang dia inginkan adalah adiknya bisa menjadi seorang yang dihormati dan disegani, seperti dirinya. Bagaimana mungkin Felicita dapat bertemu Sebastian dengan keadaan seperti ini? Cerita apa yang harus ia ceritakan padanya tentang sekolah? Apa yang harus ia banggakan dari dirinya?
“Blodwyn, oh Hazel,” ucapnya lagi. Kini tangannya ia letakkan di kedua pinggannya yang ramping. Badannya ia majukan ke depan, sedikit menunduk karena tingginya yang terpaut beberapa senti lebih tinggi dari gadis ungu. Iris birunya memandangi iris ungu si gadis ungu. [i] Ah, matanya benar-benar ungu dan ia tak mengenakan contact lens. [/i]
ReplyDelete“Jika kau begitu sungkan memanggilku dengan Chamberlain, kau bisa memanggilku Felicita,” tambahnya. Ia memberi bonus sebuah kurva merah jambu yang melengkung sempurna di wajahnya. Kini badannya sudah tegak seperti biasa dan kedua tangannya kembali ia lipat di depan dada. Ah, mungkin ini yang bisa ia ceritakan kepada Sebastian. Bahwa dirinya selalu terlihat baik dan ramah di depan orang lain. Tapi, Felicita tahu Sebastian tidak akan puas dengan hal itu.
-“Hey Fel, apakah sepulang sekolah kamu ada acara? Aku ingin berbicara sebentar mengenai acara yang akan diadakan oleh club music. Sebagai sekretaris, aku ingin menyampaikan proposal kegiatan acara yang akan kami adakan. Bagaimana? Apa kamu bisa?”-
Felicita menengok ke sumber suara yang terletak di belakang punggungnya. Domba kecil yang merupakan penyebab ketidakbahagiaan Felicita hari ini. Troublemaker. Ia berkata pada Felicita seolah tidak apa-apa barusan. Seolah yang tadi menabrak Felicita adalah seseorang yang lain. Ia cukup tahu, domba ini terlalu bodoh dan terlalu bernyali untuk bicara padanya dengan sikap seperti itu.
Felicita lantas memaksakan senyum di wajahnya, dengan sekuat tenaga ia melakukan senyuman itu agar terlihat alami di hadapan si domba troublemaker itu. Felicita selalu baik di hadapan orang lain, kau tahu?
“Soal proposal, kau bisa berdiskusi dengan Devon terlebih dahulu,” ucapnya kepada si domba troublemaker dengan ringan. Seorang ketua hanya harus menyetujuinya, bukan? Pada sebuah organisasi tentu ada pembagian kerja, karena itulah seorang ketua tidak bisa sendirian dan harus memiliki beberapa anggota. Urusan proposal bisa ia serahkan kepada Devon karena ia adalah Kepala Administrasi, atau jika ia terlalu ngotot ia bisa menyerahkannya kepada Glenn, wakil ketua dewan siswa. Toh, bukan urusannya. Bagaimana mungkin seorang ketua dewan siswa harus mengatasi semua, apalagi hal remeh temeh macam proposal?
“Setelah proposalmu benar, kau bisa minta persetujuanku,” tambahnya sambil memandangi domba troublemaker. Di tangan gadis itu terdapat kotak biola, entah ingin ia bawa kemana. Yang jelas direksi gadis itu sudah bukan menuju kelas lagi. Padahal jam sebentar lagi waktunya homeroom. Berniat bolos, eh?
“Ah, Louis,” ucapnya pada domba troublemaker. “Jangan sampai kau melewatkan waktu homeroom. Atau Mr. Graysmith akan tidak senang,” tambahnya sambil mengerdipkan sebelah matanya. Oke, aksi terakhir mengerdipkan matanya itu mungkin memang sedikit berlebihan untuk ukuran beramah-tamah dengan seorang domba.
“Ayo… Blod, ah maksudku Hazel. Kita bisa terlambat jika langkah kita tidak cukup cepat,” ujarnya pada gadis ungu sambil menyambar tangannya dengan gerakan yang cepat tapi tidak memaksa. Lupa jika gadis itu sedang membawa koper. Ah, biarlah. Ia tak ingin terlambat. Begitu saja.
Masih terombang-ambing di alam pikirannya, Violet mengingat-ingat sosok yang didambakannya itu. Sosok anak kecil bersurai merah yang tersenyum lembut kepadanya, dengan sikap lembut, selalu menggandeng tangannya kemana-mana. Hanya beberapa memory yang tertinggal di ingatannya. Kabur.
ReplyDeleteDi sinilah Violet sekarang. Kota London. Kota dimana ibu kandung dan kakak kembarnya sekarang tinggal. Kota dimana harapannya akan diwujudkan, meski masih meragukan. Dan terakhir, informasi yang ia dapatkan, saudaranya bersekolah di Grandfield-Alven. Itulah informasi yang didapat dari orang tua angkatnya di Berlin. Violet sungguh bahagia mendapatkan semua kabar itu. Semoga informasi itu tidak salah. Sekarang, tergantung dari Violet sendiri. Jelasnya ia akan berusaha menemukan kebahagiaan lama yang ia rindukan.
-“Hm, ya aku tahu,”-
Seketika lamunannya lenyap. Mata yang tadinya gelap dan resah, kini melebar –berubah drastis. Terkejut mendengar jawaban sedemikian rupa. Violet menolah ke arah Chamberlain, penasaran bercampur senang, menunggu perkataan lain yang mungkin akan diungkapkan oleh gadis di dekatnya.
-“Dia…. Lelaki yang cukup terkenal,”-
Terkenal? Violet tidak bisa membayangkan. Ia hanya terpaku menatap Chamberlain di hadapannya. Ingin sekali ia bertanya lebih mendalam tentang kembarannya itu. Pikirannya masih bertanya-tanya. Bagaimana sosok Fern sekarang? Apa Fern masih seperti dulu? Apa hobi Fern masih sama? Apa Fern masih ingat akan kembarannya?
DEG
Pertanyaan terakhir itu membuat Violet berhenti berfikir. Ia membuang nafas lembut dan melemparkan senyum hambar kepada Chamberlain. Entah kenapa tekad bulatnya berada di sini, sedikit retak akan pemikiran terakhir tadi.
-“Blodwyn, oh Hazel,”-
-“Jika kau begitu sungkan memanggilku dengan Chamberlain, kau bisa memanggilku Felicita,”-
“…..Hm? Benarkah? Baiklah, aku tidak akan ragu lagi untuk memanggilmu Felicita.” Katanya tanpa bisa berfikir jernih tentang semua hal di sekitarnya sekarang.
“…Felicita, terima kasih. Terima kasih sudah mau mengantarku. Dan terima kasih sudah memberitahuku tentang Hahn.”
Violet masih tersenyum hambar. Sulit untuk membalas senyum sempurna seorang Felicita di depannya itu. Hatinya kacau. Masih terdapat keragu-raguan akan kedatangannya di sini. Lebih baik ia tidak bertanya terlalu jauh mengenai Fern. Bisa-bisa saudara kembarnya mendapat masalah. Untuk saat ini mungkin hanya itu. Sudah tahu kebenaran informasi Fern berada di sekolah ini saja sudah cukup membuat Violet senang.
-“Hey Fel, apakah sepulang sekolah kamu ada acara? Aku ingin berbicara sebentar mengenai acara yang akan diadakan oleh club music. Sebagai sekretaris, aku ingin menyampaikan proposal kegiatan acara yang akan kami adakan. Bagaimana? Apa kamu bisa?”-
ReplyDeleteTiba-tiba suara yang sepertinya pernah Violet tahu terdengar bertubi-tubi. Dimulai dari sebuah sapaan tanpa jeda menunggu jawaban terhadap orang yang ditanya, kemudian dilanjutkan dengan pernyataan dan pertanyaan yang terdengar tanpa titik koma. Mungkin pemiliknya harus mengambil nafas panjang terlebih dahulu untuk mempersiapkan kata-kata itu.
Violet mengikuti arah pandangan Felicita. Ah, ternyata. Seorang siswa bertubuh mungil, bersurai putih, lah yang barusan membuat sedikit panggilan tanpa jeda. Sedikit lebih menengok ke arah bawah –tempat gadis mungil berada. Diperhatikannya, gadis bersurai putih itu tersenyum ke arah Violet. Segera Violet mengangguk ke arah gadis tadi, sembari mengubah senyum hambarnya tadi menjadi senyum sapa khasnya.
Mengamati. Terdapat tas biola di tangannya. Apa dia mahir memainkan alat musik itu? Sepertinya di antara tumpukan kata-kata yang dilontarkan kepada Felicita tadi terdapat kata-kata yang cukup menarik perhatian Violet. Klub musik. Mungkin sesekali Violet bisa mendengarkan alunan musik dari mereka. Atau bergabung? Berhubung gadis beriris ungu ini hanya bisa memainkan piano, sedikit, mungkin bisa dipertimbangkan.
-“Ayo… Blod, ah maksudku Hazel. Kita bisa terlambat jika langkah kita tidak cukup cepat,”-
Serentak tubuh Violet bereaksi ketika tangannya ditarik dengan lembut oleh Felicita. Meski kaget, Violet tidak melawan perlakuan itu. Sekarang Violet harus sibuk dengan koper merahnya karena harus bersusah payah untuk mengikuti langkah gesit Felicita yang tengah menariknya.
“Ba-baik.”